Senin, 17 Mei 2010

PENILAIAN PERBUATAN ATAS FILM ANGELS AND DEMONS


SINOPSIS

Film ini dimulai dengan kisah meninggalnya seorang paus, sehingga muncul empat orang kardinal yang menjadi calon kuat untuk menjadi paus. Untuk mengatur rumah tangga Vatikan, pengelolaan semantara diserahkan kepada Karmelengo, anak angkat paus sebelumnya. Ia adalah seorang yang sangat anti dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan akan menghancurkan Gereja dan membahayakan eksistensi Tuhan, apalagi dengan ditemukannya zat anti materi yang kemungkinan besar bisa menjelaskan bagaimana awlnya alam semesta ini dijadikan dan dibentuk. Sikapnya ini bertolak belakang dengan keempat kardinal yang menjadi calon kuat paus, mereka sangat terbuka bagi perkembangan dan masuknya ilmu pengetahuan ke dalam Gereja, bahkan melihat keduanya yaitu iman dan pengetahuan sebagai dua hal yang saling melengkapi.
Dari ketakutan dan kecemesan Karmelengo ini lahirlah berbagai tindakan jahat, yaitu pembunuhan ilmuwan dengan menyewa seorang pembunuh bayaran, kemudian disusul penculikan dan pembunuhan empat kardinal yang menjadi calon kuat paus. Ia mengelabui tindakn jahatnya ini dengan menggunakan kode rahasia kelompok iluminati, satu kelompok yang anti terhadap Gereja, namun sudah lama punah. Ia menuduh kelompok iluminati sedang melakukan pembalasan terhadap Gereja atas kesalahan masa lalu yang dilakukannya. Kelompok ilumaniati ini dikatakannya sedang memerangi Gereja dan mengganti Tuhan dengan ilmu pengetahuan. Akal bulusnya juga begitu luar biasa untuk menutupi tindakan jahatnya, ia mencuri dan meletakan tabung anti materi di Vatikan lalu kemudian ia sendiri mengambil tabung dan meledakannya di udara sehingga ia dianggap sebagai penyelamat Vatikan, padahal ialah yang ada di balik semuanya itu. Akal bulusnya ini diketahui dari sebuah rekaman pembicaraannya dengan kepala polisi vatikan (Swis Guard), ia menuduh kepala polisi ini sebagai salah satu anggota kelompok iluminati sehingga ditembak mati, padahal Karmelengo sendirilah yang mencap tubuhnya dengan kode rahasia kelompok iluminati yang telah dicurinya dari museum vatikan.

PENILAIAN ATAS KASUS.

Untuk mengatakan bahwa suatu tindakan termasuk tindakan yang secara moral baik atau tidak, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1) Objek moral yang merupakan objek fisik yang berupa tujuan yang terdekat dari sesuatu perbuatan tertentu (sifat dasar perbuatan) di dalam terang akal sehat.
2) Keadaan yaitu keadaan di luar perbuatan tersebut, tetapi yang berhubungan erat dengan perbuatan tersebut, seperti kapan dilakukan, di mana, oleh siapa, berapa banyak, bagaimana dilakukannya, dan dengan bantuan apa.
3) Maksud/tujuan (intensi) yaitu tujuan yang lebih tinggi yang menjadi akhir dari perbuatan tersebut.
Dari tiga ketentuan ini dapat diambil penilaian atas kasus di atas.
1. Objek moral dari kasus ini adalah pembunuhan dengan perencanaan yang sangat matang, dalam artian ini akal atau kehendak bebas Si pelaku (Karmelengo) bekerja secara sadar. Akibat-akibat yang timbul dari perencanaan pembunuhan itu pasti sudah disadari melanggar hukum moral. Pembunuhan yang dilakukan dalam kasus di atas keluar dari kehendak bebas pelaku dan mempunyai tujuan yang jelas yaitu membunuh untuk menyingkirkan para kardinal yang progresif dan sangat terbuka bagi ilmu pengetahuan.
Dari segi objek dan alasan, perbuatan itu sangat melanggar hukum moral.
2. Keadaan.
Untuk keadaan cukup dilihat dua segi berikut:
Segi pertama, orang yang melakukan. Dalam kasus di atas orang yang melakukan tindakan pembunuhan adalah seorang pastor pengurus rumah tangga kepausan. Tentu dari jabatan Si pelaku ini menambah beratnya pelanggaran moral yang dilakukan. Seharusnya ia adalah orang yang memberi teladan dalam kehidupan moral Gereja ternyata melakukan yang sebaliknya.
Segi kedua, dengan bantuan apa dan bagaimana. Karmelengo otak di balik pembunuhan empat kardinal calon paus dan ilmuwan melakukan eksekusi para korban dengan menyewa permbunuh bayaran. Dari sini dapat diberi penilaian, pembunuhan itu sendiri sudah merupakan pelanggaran moral yang sangat berat karena menghilangkan hak hidup orang lain yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia, apalagi dengan meminta bantuan atau menyewa orang lain menambah beratnya pelanggaran karena menjatuhkan orang lain pada dosa berat dan persoalan moral yang sangat berat.
Di sini terjadi kerjasama antara otak pembunuhan dan pengeksekusi, namun kerja sama dalam hal buru sehingga dikatakan sebagasi hal yang salah dan keliru. Kerjasama ini mendatangkan akibat sosial bagi orang lain terutama menimbulkan kekacauan dalam seluruh Gereja karena tidak meiliki pimpinan.
3. Tujuan pelaku dalam kasus di atas adalah, membunuh demi mencegah masuknya kemajuan ilmu pengetahuan dalam Gereja. Sebuah tujuan yang sangat sederhana dan picik, namun telah mengorbankan banyak nyawa tak bersalah dan hampir mebahayakan seluruh Gereja kaena Karmelengo hampir terpilih menjadi paus. Jika ia terpilih, akan kemanakah Gereja Kristus dibawanya, karena ia telah memperoleh jabatan itu dengan akal bulus dan menipu banyak pihak.
Selain tiga hal di atas, pelaku juga bersifat munafik, menuduh orang lain yang mebunuh para korban dengan menyisakan kode rahasia kelompok iliminasi pada tubuh mereka. Hal lain juga ia berpura-pura menyelamatkan Vatikan dari ledakan bom, ternyata ia sendiri yang meletakan bom itu di Vatikan. Dalam kasus di atas juga terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Karmelengo memperalat kepala polisi vatikan (Swis Guard) demi mempertahankan keyakinan pribadinya bahwa ilmu pengetahuan membahayakan Gereja dan eksistensi Tuhan. Pelanggaran moral yang dilakukan Karmelengo di sini sangata kompleks.

BAGAIMANA PERAN HATI NURANI KARMELENGO DALAM KASUS DI ATAS?

Dalam kasus di atas, hati nurani Karmelengo dikatakan sesat. Karena ia hanya mengikuti keyakinan pribadinya dan tidak melihat norma moral obyektif yang ada dalam Gereja. Hati nurani dapat keliru di dalam pengambilan keputusannya, karena itu setiap orang perlu mebandingkan keputusan hati nuraninya dengan norma moral obyektif yang sudah ada dalam Gereja. Dalam kasus di atas sudah jelas Karmelengo hanya mengutamakan keyakinan pribadi dan tidak membandingkan keyakinan itu dengan norma moral Gereja, sehingga mengakibatkan kerugian yang luar biasa besarnya. Ia sulit menemukan kebenaran karena hanya mengikuti keyakinan dan suara hatinya tanpa membandingkan itu dengan norma moral obyektif, padahal harus disadari tidak ada manusia yang sempurna karena itu tidak boleh hanya mengandalkan keyakinan pribadi semata tetapi perlu diinterfensi dengan kebenaran dari luar diri manusia.
Walaupun hati nurani itu merupakan tempat Allah bertemu dengan manusia, tempat Allah berbicara kepada manusia, namun hati nurani tetap bisa keliru karena kodratnya sebagai ciptaan yang dipengaruhi oleh keadaan manusia yang seringkali tidak mengikuti kata hatinya. Kebiasaan ini menimbulkan hati nurani itu menjadi tumpul, tidak mampu lagi membedakan mana yang baik mana yang jahat.
Namun dibalik itu, hati nurani memungkinkan untuk menerima tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Kalau manusia telah melakukan yang jahat, maka keputusan hati nuraninya yang tepat dapat tetap memberi kesaksian bahwa kebenaran moral berlaku, sementara keputusannya yang konkret itu salah. Rasa bersalah seturut keputusan hati nurani merupakan jaminan bagi harapan dan belas kasihan. Dengan membuktikan kesalahan pada perbuatan yang dilakukan ini, keputusan hati nurani itu mengajak supaya memohon ampun, selanjutnya melakukan yang baik dan supaya dengan bantuan rahmat Allah mengembangkan kebajikan secara terus-menerus. Karmelengo dalam kasus di atas, pada akhirnya mendengarkan kata hati nuraninya sehingga pada akhirnya ia menyadari perbuatannya sudah keliru. Itu terlihat ketika pada akhir film, ia membunuh diri karena menyesali perbuatannya dan satu kata terakhir yang diucapkannya adalah “Bapa ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku”. Sebenarnya ia mempunyai tujuan sangat luhur dalam misinya yaitu mempertahankan ortodoksi ajaran Gereja, namun tindakan yang diambilnya sangat keliru dan salah melawan hukum Tuhan, membunuh.

KESIMPULAN

Manusia mempunyai hak untuk bertindak bebas sesuai dengan hati nuraninya, dan dengan demikian membuat keputusan moral secara pribadi. Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahawa perbuatan Karmelengo sangat melanggar norma moral menghilangkan hak hidup orang lain yang diberikan oleh Tuhan. Ia mempunyai tujuan yang sangat luhur menjaga ortodoksi ajaran Gereja, namun cara yang digunakannya untuk mencapai tujuannya itu salah dan keliru.
Hati nurani Karmelengo dikatakan sesat, karena ia hanya mengikuti kata hati nuraninya tanpa membandingkan keputusan itu dengan norma moral yang diajarkan Gereja. Ia juga telah melanggar hukum Tuhan yakni dengan membunuh orang dalam mencapai tujuannya.

SARAN

Hati nurani harus senantiasa dibentuk dan dilatih agar dapat mengambil keputusan moral yang benar. Hati nurani yang dibentuk dengan baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan berorientasi pada kebaikan yang dikehendaki oleh kebijaksanaan ilahi. Bagi kita manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang buruk dan selalu digoda untuk mendahulukan kepentingan sendiri, pembentukan hati nurani itu mutlak perlu. Pembentukan hati nurani adalah suatu tugas seumur hidup. Sudah sejak awal ia membimbing seorang manusia untuk mengerti dan menghayati hukum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Pendidikan dan latihan yang baik mendorong orang menuju sikap yang berorientasi pada kebaikan. Hati nurani memberi dan membebaskan orang dari perasaan takut, dari ingat diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang semu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan manusia untuk bertindak mengutamakan kebaikan dan mengantar orang menuju kedamaian hati.
Hal yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan dalam pembentukan hati nurani adalah Sabda Allah. Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus menguji hati nurani kita dengan membandingkannya dengan Sabda Tuhan, apakah sesuai atau tidak. Selain itu kita harus terbuka bagi karya dan anugerah Roh Kudus, kesaksian, nasihat orang lain serta keterbukaan diri untuk dibimbing oleh ajaran moral Gereja yaitu melalui para pemimpin dan norma moral yang ada di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Para saudaraku semanggarai komentar Anda saya tunggu.