Jumat, 28 Mei 2010

HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ZHUANG ZI

Zhuang Zi adalah salah seorang filsuf Daois yang hidup sekitar abad ke 4 SM pada Periode Perang Musim Semi dan Musim Gugur, yaitu pada jaman Raja Hui dari Liang dan Raja Xuan dari Qi, sekitar 370 – 301 SM. Dalam menuliskan pemikirannya, Zhuang Zi senang menguraikan dan meingilustrasikan konsep-konsep Dao melalui metode cerita atau kisah. Dalam cerita ini ada dialog antar tokoh yang di dalamnya terkandung gagasan dan pemikirannya. Dalam nepian bab lima, ia menggunakan tokoh Konufsius yang berdialog dengan beberapa tokoh. Dan pada bagian penutup Zhuang Zi sendiri berdialog dengan Hui Zi.
Dari dialog itu muncul pemikiran utama. Dalam bab lima ini gagasan utamanya tentang hakekat seorang manusia. Seorang manusia dikatakan sebagai manusia jika ia senantiasa mengarahkan hidupnya pada kebenaran. Inilah yang dikatakan sebagai seorang bijak. Hakikat manusia tidak dilihat dari sempurna atau cacatnya fisik, tampan atau buruknya rupa melainkan dari kebenaran dan kebijaksanaan yang yang dicapai oleh seseorang. Walaupun manusia memiliki kekurangan dan cacat ia tetap disebut sebagai seorang manusia karaena Dao telah memberi dia wajah dan De memberi dia bentuk tertentu.
Hal ini diungkapkan oleh Zhuang Zi dalam dialog yang dilakukan antara Konfusius dengan Chang Ji, yang mana dikisahkan tentang Wang Tai seorang yang tidak mempunyai kaki namun memiliki banyak pengikut. Para muridnya senantiasa mendengarkan dia, walaupun ia tidak bisa berdiri untuk mengajar atau duduk untuk berdiskusi. Banyak orang yang datang kepadanya dengan perasaan kosong, tak memiliki apa-apa dan lemah lesu, pulang denagan semangat baru atau memperoleh kepenuhan atau pencerahan. Inilah tanda seorang bijak sejati. Wang Tai denagan tidak mempunyai kaki kelihatannya tidak berguna. Namun dalam ketidakbergunaanya itu sesuatu atau seseorang mempunyai kegunanya.
Hal kedua dinyatakan dalam dialog antara konfusius dengan Duke Ai tentang Ai Tai Ta seorang yang mukanya jelek dari Wei. Ia tidak memiliki status yang bisa menyelamatkan hidup orang lain dan tidak mengetahui sesuatu yang lebih daripada yang dianggap benar di sekitarnya. . Namun orang-orang mengelilingi dia dan berbicara tentang dia setiap saat. Ada sesuatu yang istimewa padanya, sehingga orang tertarik padanya. Sesuatu itu adalah kebenaran yang senantiasa di capai dan ada pada orang bijak. Orang bijak sejati adalah orang yang tidak mengetahuai apa yang diketahuinya, seperti yang dialami oleh Ai Tai Ta di atas, sedangkan orang yang menganggap dirinya tahu sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Orang bijak mampu melihat segala sesuatu dan membiarkannya sebagaimana adanya. Bagi mereka hal-hal yang duniawi tidak ada artinya lagi sehingga hakikat manusia itu tidak dilihat dari hal yang fisik dan lahiriah, penampilan luar tidak berarti bagi mereka. Para bijak tidak seperti orang biasanya yang terperangkap dalam kemewahan dan kemashyuran. Orang bijak menghindari itu sehingga mereka benar-benar bebas dari persoalan duniawi.
Menjadi pertanyaan bagaimana manusia bisa senantiasa mengarahkan dirinya pada kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini, Zhuang Zi menyatakan pemikirannya bahwa manusia mampu untuk senantiasa mengarahkan dirinya pada kebenaran karena kebenaran itu sendiri sudah dianugerahkan oleh Dao kedalam diri manusia. Selain itu juga dengan memperkembangkan atau melimpahkan De.
Kebenaran yang dianugerahi Dao
Dao merupakan asal segala sesuatu, dalam hal ini termasuk kebenaran. Dalam diri manusia Dao sudah menganugerahkan sifat alami yang mengarahkan manusia pada kebenaran. Jika manusia dibiarkan untuk hidup sesuai dengan sifat alami atau takdirnya, maka ia akan mencapai kebenaran dan mampu mengekspreikan Dao melalui cara hidupnya. Zhuang Zi yakin bahwa setiap orang mempunyai anugerahnya tersendiri beserta bakat individual yang harus diungkapkan melalui jalan kehidupannya.
Mengembangkan De
Manusia harus mengembangkan De agar semakin berlimpah atau berkembang senhingga menagarahkan manusia pada kebenaran. De ini dikembangkan melalui sikap tidak melihat sesuatu secar parsial dan tidak melihat sesuatu berdasarkan rasa suka atau tidak suka.
Tidak melihat sesuatu secara parsialitas.
Orang yang mau mengembangkan De tidak boleh melihat sesuatu hanya dari satu sisi melainkan melihatnya secara keseluruhan sehingga sampai pada satu kesimpulan yang menyeluruh bukan yang parsial. Inilah yang disebut kebenaran, melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang jelek yang sempurna dan yang tidak sempurna, yang cacat dan yang tidak cacat. Menurut Zhuang Zi pembedaan seperti itu tidak boleh dilakukan karena dengan membeda-bedakan kita telah membuat definisi yang membetasi segala sesuatu sehingga Dao kehilangan keutuhannya. Dari sikap seperti itulah muncul sikap berat sebelah subyek, menganggap sesuatu lebih baik dan berguna daripada yang lain . Untuk mencapai kebenaran kita juga harus melihat persamaan dari segala sesuatu. Jika dilihat dari persamaannya maka akan terjadi keharmonisan dan pencapaian kebenaran.. Jika manusia mampu mencapai kebenaran maka ia akan merasa senag dan bahagia. Sedangkan jika sesuatu dilihat dari perbedaannya, maka tidak ada titik temu, senantiasa berjauhan dan berlawanan dan akhirnya tidak ada keharmonisan.


Tidak melihat sesuatu berdasarkan rasa suka atau tidak suka.
Jika manusia melihat sesuatu berdasarkan rasa suka dan tidak suka, maka ia telah merugikan dirinya sendiri. Manusia seringkali menghabiskan banyak waktunya untuk berdebat atau berselisih tentang setiap aspek kehidupan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka. Karena terlalu banyak berbicara dan berdebat akhirnya mereka tidak mampu menbembangkan De, sehingga semakin menjauh dari Dao dan tidak mampu mencapai kebenaran. Jika manusia menggunakan tolok ukur rasa suka dan tidak suka maka kebenaran itu menjadi kebenaran yang subyektif dan manusia akhirnya tidak mampu mencapai kebenaran sejati.
Relefansi.
Salah satu gagasan penting filsafat adalah membantu manusia untuk merefleksikan segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang ada di sekitar relitas hidupnya. Oleh karena itu gagasan bahwa hakikat manusia tidak dilihat dari kekurangan dan cacat fisik atau dari tampilan luar melainkan dari keseluruhan realitas hidup manusia yang mengarahkan dirinya pada kebenaran, bukan secara parsial dan juga bukan berdasarkan rasa suka atau tidak suka, kiranya memicu manusia zaman ini melihat kembali seluruh gagasan hidupnya.
Gagasan Zhuang Zi mengajak kita untuk merefleksikan fenomena manusia zaman ini yang cendrung melihat sesuatu dari tampilan luar, melihat sesuatu secara parsial dan berdasarkan rasa suka atau tidak suka. Dari fenomena yang muncul itu timbullah sikap diskriminasi dan pembedaan yang membuat manusia itu dikotak-kotakan. Kiranya gagasan Zhuang Zhi memberi pencerhan kepada kita untuk melihat segala sesuatu secara menyeluruh bukan hanya dari satu sisi dan menghindari seikap sentimental yang melihat sesuatu berdasarkan rasa suka atau tidak suka, sehingga pada akhirnya bisa mencampai kesimpulan yang menyeluruh dan mencapai kebenaran sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Para saudaraku semanggarai komentar Anda saya tunggu.