Selasa, 11 Mei 2010

MUNCULNYA KEJAHATAN DARI PRSPEKTIF MENCIUS TENTANG KODRAT MANUSIA PADA DASARNYA BAIK


“Pada dasarnya kodrat manusia itu baik” demikian kata Mencius. Sekilas pernyataan ini bisa diterima, namun jika direnungkan lebih mendalam akan menimbulkan kebingingan meningat begitu banyaknya realitas kejahatan yang terjadi karena ulah manusia. Kalau kodrat manusia itu pada dasarnya baik, lalu kejahatan yang dilakukan manusia itu bersumber dari mana? Mengapa manusia melakukan perbuatan jahat, misalnya pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, teror, dll, yang bertentangan dengan kodratnya yang baik itu?
Berangkat dari kebingungan ini, dalam paper ini penulis mencoba mendalami mengapa kejahatan itu muncul atau hadir dalam diri dan tindakan manusia. Yang menjadi acuan dari seluruh tulisan ini adalah studi tentang pandangan Mencius bahwa kodrat manusia itu pada dasarnya baik.
Sekilas tentang Mencius
Meng-Tse dilahirkan sekitar tahun 371-289 SM (?) di negeri kecil Tsou, yang kini berada di provinsi Shantung, Cina Timur. Masa ia dilahirkan, merupakan babak akhir dinasti Chou, disebut oleh orang Cina dengan julukan masa perang antar negara, berhubung Cina secara politis waktu itu terpecah belah, di mana pelbagai negara saling menyerang untuk menguasai seluruh Cina, yang sebelumnya disatukan di bawah Dinasti Zhou.
Mencius merupakan seorang tokoh terkemuka dalam aliran Konfusianisme, penafsir ajaran Konfusius yang handal dengan gayanya yang khas. Ia adalah murid dari Tzu Ssu, cucu Konfusius. Terkemuka dalam teori tentang manusia pada dasarnya baik, dan kebaikan ini dapat diolah dan dikembangkan melalui latihan, pendidikan dan disiplin diri, atau merosot karena lalai dan pengaruh negatif dari luar. Namun kebaikan ini tidak akan pernah hilang, karena dalam diri manusia mengandung empat permulaan dasar kebaikan yang ada sejak lahir atau ada dalam kodratnya.
Munculnya Kejahatan
Munculnya kejahatan disebabkan oleh hal-hal berikut.
1. Manusia tidak mengembangkan empat permulaan dasar kebaikan.
Mencius menyatakan bahwa ada empat permulaan dasar kebaikan dalam diri manusia. Pertama, perasaan simpati merupakan permulaan rasa kemanusiaan. Kedua, perasaan malu dan segan merupakan awal dari kebajikan. Ketiga, kerendahan hati merupakan permulaanl dari kesopanan. Keempat, pemahaman terhadap hal yuang benar dan yang salah adalah permulaan kebijaksanaan.
Keempat permulaan kebaikan ini sudah ada dalam diri manusia sejak manusia itu lahir atau sudah ada dari kodratnya. Namun agar keempat permulaan kebaikan ini berfungsi dengan lebih efektif maka harus dikembangkan, diolah dan dilatih melalui pendidikan yang terus menerus agar manusia selalu mengarahkan dirinya pada kebaikan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kejahatan itu muncul dalam diri manusia yang terwujud dalam tindakan jahatnya disebabkan karena manusia tidak mengembangkan empat permulaan dasar kebaikan yang telah ada dalam dirinya.
Selain itu, keempat permulaan dasar kebaikan itu mutlak diolah dan dikembangkan karena dengan itulah manusia itu disebut sungguh-sungguh sebagai manusia. sedangkan jika tidak diolah dan dikembangkan manusia tidak ada bedanya dengan binatang.
2. Pengaruh Eksternal.
Kejahatan timbul dalam diri manusia karena penagruh dari luar, pengaruh ini merupakan konskewensi lanjut dari keadaan manusia tidak mengembangkan dan mengolah keempat permulaan dasar kebaikan. Karena tidak mengembangkan keempat permulaan kebaikan yang ada dalam dirinya, manusia tidak memiliki pegangan yang bisa menuntunnya dalam bertindak, sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya. Jadi kejahatan ada dalam diri manusia karena ia belajar dan dipengaruhi oleh lingkungannya, sebab dalam diri manusia tidak ada unsur kejahatan itu. Jika manusia membiarkan diri dibimbing oleh kodrat asali yang ia kembangkan dalam hidupnya, maka manusia selalu mengarahkan dirinya pada hal-hal yang baik. Sedangkan jika manusia itu berbuat jahat, itu bukanlah berasal dari kodratnya, melainkan karena pengaruh linkungan di mana manusia itu hidup.
3. Kemampaun yang berbeda pada setaiap manusia.
Mencius mengatakan bawa perkembangan kodrat asali stiap manusia itu berbeda-beda. Barangkali inilah juga salah satu hal yang menyebabkan kejahatan itu ada dalam diri manusia. Hal ini amat mungkin terjadi, karena jika perkembangan kodrat asali itu berbeda-beda, maka kemampuan dasar setiap manusia untuk mengolah diri dan informasi dari luar dirinya juga berbeda-beda. Sehingga memungkinkan manusia itu melakukan kejahatan, karena kurangnya pengetahuan tentang kebaikan yang telah ada dalam kodratnya sebagai akibat dari perbedaan perkembangan kodart asali pada setiap manusia.
4. Aspek kebinatangan manusia.
Mencius sebenarnya mengakui benih-benih kejahatan itu ada dalam diri manusia, namun tidak diakuinya sebagai kodrat dasar manusia, melainkan kodrat yang ada dalam binatang. Hal ini secara tersirat dapt dilihat dari dialognya dengan Konfusius.
Konfucius menyatakan bahwa dalam sifat dasar manusia terdapat unsur-unsur yang baik, tetapi juga terdapat unsur-unsur lain yang tidak dapat dikatakan baik atau buruk, jika tidak dikontrol sebagaimana mestinya dapat minimbulkan kejahatan. Namun menurut Mencius unsur-unsur itu bukan hanya terdapat dalam diri manusia tetapi juga pada makhluk-makhluk yang lain. Unsur-unsur ini menunjukan aspek “kebinatangan” dalam kehidupan manusia dan karenanya bial ditinjau secara ketat, tidak dapat atau tidak akan dipertimbangkan sebagai bagian dari kodrat dasar manusia.
Jadi kejahatan itu muncul dalam diri dan tindakan manusia mungkin karena manusia membiarkan diri dikuasai oleh aspek kebinatanagn itu atau aspek kebinatangan itu mendominasi dirinya. Aspek kebinatangan itu mendominasi diri manusia disebabkan karena empat permulaan dasar kebaikan dalam diri manusia tidak diolah dan dikembangkan semestinya.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa manusia dari kodratnya mengandung kebaikan, namun kejahatan bisa muncul dalam dirinya karena:
1. Ia tidak mengolah dan mengembangkan empat permulaan dasar kebaikan yang sudah ada dalam kodratnya sebagai manusia melalui latihan dan pendidikan .
2. Penagruh dari luar atau apa yang dipelajari dari lingkungannya yang merupakan akibat lanjut dari kelalaian mengolah empat permulaan dasar kebaikan yang ada dalam dirinya, sehingga ia tidak memiliki pegangan hidup.
3. Penagruh perkembangan kodrat asali manusia yang berbeda-beda, menyebabkan kemampuan untuk mengolah diri dan informasi dari luar dirinya berbeda pula.
4. Aspek kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Aspek kebinatangan ini mengandung dalam dirinya segala macam bentuk kejahatan.








DAFTAR PUSTAKA

1. Fung Yu-Lan. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
2. Majalah Forum-Nomor 24-Edisi XXX. Malang: STFT Widya Sasana. 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Para saudaraku semanggarai komentar Anda saya tunggu.