Sabtu, 29 Mei 2010

KESEMBUHAN DILIHAT DARI DIMENSI ANTROPOLOGI BIBLIS

1. Pengantar

Fenomena penyembuhan dewasa ini bukanlah hal yang asing lagi. Dalam menghadapi fenomena ini, umumnya orang Katolik mempunyai dua sikap yaitu melihatnya apakah berasal dari Allah atau bukan. Bila bukan berasal dari Allah, maka akan ditolak sedangkan jika berasal dari Allah diterima dan didukung. Namun menjadi pertanyaan bagaiman membedakan penyembuhan yang berasal dari Allah dan yang bukan berasal dari Allah. Kiranya kedua sikap ini terlalu kekanak-kanakkan.
Oleh karena itu untuk menjawab persoalan ini dan bagaimana harus bersikap mengahadapi fenomena penyembuhan yang tejadi dewasa ini, penulis mencoba mendalami penyembuhan dari sisi antropologi, khususnya antropologi biblis. Tujuannya melihat dan menggali berbagai potensi yang ada dalam setiap dimesi manusia untuk menyembuhkan dirinya.

2. Pengertian Antropologi

Antropologi berasal dari antropo dan logos yang berarti manusia dan ilmu, sabda atau kata. Jadi antropologi adalah ilmu yang berbicara tentang manusia secara keseluruhan. Namun jauh sebelum antropologi sebagai suatu ilmu sudah ada pemahaman tentang manusia. Sedangkan jika dikaitkan dengan iman Kristiani, antropologi bukan hanya suatu ilmu yang bersifat profan melainkan suatu konsep tentang manusia yang lahir dari suatu refleksi dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Karena itu antropologi merupakan suatu teologi tentang mausia itu sendiri.
3. Antropologi Biblis
Antropologi biblis ini dibagi atas dua yaitu antropologi Perjanjian lama dan Perjanjian Baru.


3.1 Antropologi PL

Menurut Perjanjian Lama manusia merupakan realitas keterpaduan dari berbagai unsur yang membentuknya menjadi satu kesatuan. Dari sini terlihat bahwa Kitab Suci Ibrani memiliki konsep yang berseberangan dengan dualisme Plato. Unsur-unsur itu nampak jelas dari berbagai istilah untuk menggambarkan manusia, misalnya basar, ruah, nefes, dan leb.
a. Nefes (self)
Kata ini menggambarkan kehidupan pada umumnya, baik kehidupan binatang maupun kehidupan manusia (Ul 19:21;1 Raj 19:2; Ay 2:6); juga nafas (Ay 12:10; 1 Raj 17:21) atau pribadi manusia yang bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Nefes juga dikatakan diam dalam darah, sehingga kematian dianggap sebagai hilangnya nefes, dan membuat manusia hanya menjadi basar melulu.
Namun seringkali nefes diterjemahkan sebagai jiwa dari seseorang, seperti kutipan ini: “Althouh it could be translated as “soul” in such contexts, it might more sensibly be read as “person” or “self” or by such personal pronouns as “I” and “myself”. My nephesh will praise the Lord” simply means “I will praise the Lord.” In sum, this crusial term is as different from as it is similar to Platonic sense of “soul.”
b. Ruah (spirit of God)
Ruah memiliki arti yang bervariasi seperti nefes, tapi digunakan lebih banyak sebagai kekuatan yang berasal dari Allah untuk manusia, dari pada binatang dan berhala. Data ini menyodorkan sebuah gagasan bahwa manusia tidak hanya disamakan dengan binatang (sebagai ciptaan) tetapi juga mempunyai relasi dengan Sang Pencipta yang memberinya kekuatan. Manusia adalah ruah sejauh Allah menerima dari ruah Allah (Kej 2:7). Ruah adalah nama dari nafas yang dihembuskan Allah (Kej 7:22) dan sumber dari disposisi-disposisi yang mengarahkan tingkah laku manusia, kekuatan dan kehidupan transenden yang diberikan Allah kepada manusia sehingga manusia bisa mengikuti-Nya.
Ruah merupakan suatu anugerah semata-mata dari Allah kepada manusia. Ruah merupakan daya hidup yang diberikan Allah kepada umat manusia:
“Ruach is a term which refers to wind or moving air and thus, like nephesh, is at times associated with breath. But it also translated as “spirit,” and it actually refers to the spirit of God more frequently than to the human spirit. When indicating the breath of a living creature, ruach is often parallel to another important term, neshama, “the breath of life” (Gen 2:7). If he (God) sould take back his ruach to himself, and gather to himself his breath (neshama), all flesh would perish together, and man would return to dust. So ruach is a vital force or power or energy which animates living creature.
Jadi ruah merupakan kekuatan yang diberikan oleh Allah sendiri kepada manusia. Ruah tidak identik dengan kedirian manusia (self), melainkan sesuatu yang secara langsung diberikan dari Allah kepada manusia. Kenyataan ini menandakan betapa luhurnya nilai hidup manusia, sebab Allah sendirilah yang menjadi dasar baginya.
c. Basar (flesh)
Basar biasanya diterjemahkan badan jasmani (flesh), yang merujuk kepada badan manusia secara keseluruhan. Secara abstrak, basar juga menunjukkan kelemahan manusiawi, keadaan mudah terluka (vulnerability), kelemahan moral (frailty),dan bersifat kotigen. Kata ini banyak dipakai untuk binatang dan juga untuk manusia, tetapi tidak pernah dikenakan kepada Allah. Kata ini menunjukkan lebih pada aspek badaniah manusia, yaitu sejauh manusia terbuat dari badan wadak yang rapuh, lemah dan dapat mati (bdk. Kej 6:3; Yer 17:5; Mz 56:5; Yes 40:6; Yob 34:14-15). Pada dasarnya, kata ini dikenakan kepada manusia sejauh berbeda dari Allah atau jauh dari Allah, yaitu manusia yang ditandai oleh kejatuhan ciptaani.
d. Leb (hear, affectif)
Kata ini paling sering dipakai untuk manusia, bahkan hampir secara ekslusif dipakai hanya untuk manusia. Pada umumnya sekarang diterjemahkan dengan kata “hati” dalam arti lebih luas daripada arti yang digunakan pada masa kini, yaitu kehidupan afektif. Pengertian Ibrani mencakup selain perasaan-perasaan, juga ingatan, gagasan dan penalaran, maupun rencana-rencana dan keputusan. “Allah memeberikan kepada manusia hati yang berpikir” (Sir 17:6). “Kebesaran hati” (1 Raj 5:9) berarti keluasan untuk mengerti. “Hati yang mengeras” berarti pikiran tertutup. Selain itu dapat juga diartikan sebagai pengalaman emosional dan mood, kepribadian seseorang, dan karakter yang dimiliki seseorang.
3.2 Antropologi PB
Perjanjian Baru meneguhkan sekaligus melampaui ajaran Perjanjian Lama, karena adanya kunci defenitif dari penafsiran dan perkembangan manusia. Kunci ini adalah kenyataan, gagasan, dan karya Yesus, putera Allah dalam pribdainya dan dalam pewartaannya, yang diterima dan diungkapkan oleh komunitas murid-murid pertama, wahyu tentang manusia menjadi jelas, melalui wahyu Allah.
Sejalan dengan pola pikir Ibrani, Perjanjian Baru berbicara tentang manusia dalam hubungannya denga Allah dan tentang Allah sejauh berhubungan dengan manusia. pertama yang harus diingat, Perjanjian Baru tidak secara eksplisit menjelaskan konsep tentang antropologi atau teori yang jelas dan menjelaskan secara konsisten pengertian tentang tubuh, pikiran, jiwa, dan roh. Akibatnya terminologi ini menjadi sedikit rumit dan beragam artinya. Secara khusus kata seperti sarx, soma, psyche, pneuma, dan kardia mempunyai pengertian yang kadangkala berbeda antara kitab yang satu dengan yang lainnya.
a. Sarx
Sarx menunjukkan pada dimensi lahiriah, badaniah, dan duniawi dari manusia (Luk 24:39; Rm 2:28) dan dari setiap mahluk hidup (Why 18:17-18). aspek”ke-daging-an ini merupakan dasar ikatan kekeluargaan (Rm 11:14; Hib 12:9; 1Kor 10:18), dan ikatan perkawinan (mempelai menjadi satu “sarx”: Mat 19:5; Mark 10:8; 1 Kor 6:16; Ef 5:13) serta ikatan umat manusia (pasa sarx berarti umat manusia: Mat 24:32; Jn 17: 2; Lk 3:6; Kis 2:7). Seluruh diri manusia adalah sarx dan karena sarx ini manusia bercirikan ciptaani (Jn 1:13; 1 Ptr 1:24). Sarx ini menunjukkan ciri kerapuhan dan kelemahan manusia (2 Kor 10:2). Dalam sarx ini manusia hidup. Dalam arti ini Sang Sabda menajadi sebagai sarx (Jn 1:14; Hib 2:14; 1 Jn 4:2; 2 Jn 7). Dalam Perjanjian Baru juga ada kata “soma” yang sangat dekat dengan arti “sarx” atau basar. Badan atau soma ini terdiri atas jiwa daging dan tulang, yang pada saat kematian menjadi mayat. Dosa juga melawan badan, jika dosa itu menyangkut kemampuan prokreasi.
b. Pneuma
Pneuma artinya roh (dalam PL: ruah), yang berarti daya hidup dan kekuatan. Pneuma dibedakan dari apa yang nampak padanya (soma: 1 Kor 5:3; 7:37; sarx: 2 Kor 7:1; Kol 2:5), atau dari apa yang lemah dalam dirinya (Mat 26:41; Mk 14:38). Kekuatan ini berasal dari Allah: jika manusia meninggal, rohnya kembali kepada Allah (Mt 27:50; Jn 19:30; Kis 7:59; Yak 2:26), yang dipercayakan kepada Allah (Lk 23:46; Hib 12:23; Why 11:11).
Paulus menggunakan kata ini sebanyak 146 kali, dalam antiteses dengan sarx, untuk menunjukkan sluruh pribadi manusia sejauh terbuka kepada kehidupan Ilahi dan taat kepada tindakan Roh Kudus. Roh orang beriman didiami oleh Roh Allah yang menyatukan dirinya dengan manusia untuk menopang dalam dirinya doa keputraan (Rm 8:16,26) dan untuk menyatukan dengan Kristus sehingga yang bersangkutan bisa dibentuk sesuai dengan Yesus dalam satu Roh (1 Kor 6:17). Pada bebrapa teks (Rm 12:11; 2 Kor 6:6), kesatuan antara manusia, roh, dan Allah ditentukan begitu kuat untuk memberi pengertian bahwa Allah membuat mereka yang menyatukan diri dengannya, serupa dengan Allah.
c. Psyche
Psyche merupakan kata yang memiliki kesamaan dengan nefes dalam perjanjian lama. Kata ini berasal dari kata Yunani yang berarti pribadi, atau dengan kata ganti “saya, seseorang. Menggambarkan hidp manusiawi konkrit, atau mirip dnegan kata pneuma, hembusan yang darinya manusia hidup, dan yang meninggalkan ketika manusia mati. Psyche berarti juga “pusat” dari kehidupan emosional dan pengetahuan; atau pribadi sejauh mengungkapkan diri dalam berbagai perasaan. Seringkali berarti kehidupan duniawi sejauh menyangkut pribadi subyek.
d. Kardia
Kardia artinya hati: dikaitkan dengan kata Ibrani “leb”. Dipakai di seluruh PB dan pertama-tama kehidupan dalam diri manusia, tempat akal budi, hati nurani, kehendak. Hati dilawankan dengan wajah dan bibir, dan berarti suatu yang tersembunyi, atau sumber dari pikiran-pikiran. Juga berarti sumber dari iman, pengertian, ketegaran dan pilihan dasar atau tempat hukum yang tak tertulis dan tempat pertemuan dengan Allah.
Hati ini dihangatkan oleh suara Kristus (Luk 24:32), tidak punya lagi rasa takut, ditebus oleh darah penyelamat, menjadi murni dan beristirahat dalam damai. Roh Putera tinggal dalam hati dan menyatakan cinta Allah (Rm 5:5)

3.3 Pendalaman
Dari pembahasan antropologi biblis di atas dapat disimpulkan bahwa dalm diri manusia ada empat dimensi yaitu badan, batin jiwa dan roh. Kiranya keempat dimensi ini saling mempengaruhi dalam kehidupan manusia. Pada bagian ini mencoba mendalami fungsi dari keempat dimensi ini dan pengaruh serta keterkaitannya masing-masing.
a. Badan
Badan merupakan bagian tubuh yang mempunyai otoritas kemandirian tersendiri. Kemandirian ini tampak jika badan mengalami sesuatu, misalnya haus, lapar, sakit, dll. Semua rasa itu harus diatsi dengan memberikan sesatu yang bisa memuaskan badan.
Badan memiliki kekuatan sendiri untuk menyembuhkan diri, misalnya ketikia terluka, jika dibiarkan tanpa diobatipun badan bisa menyembuhkan seniri luka yang terjadi. Namun perlu diingat di sini keadaan fisik kita juga mempengaruhi tiga dimensi lain dalm diri manusia. Misalnya ketika kita sakit, hubungn dengan orang lain juga pasti terganggu.
b. Batin
Batin merupakan bagian terdalam dari hidup manusia, tempat di mana manusia bertemu dengan yang Ilahi.
Batin menunjukkan kemiripan fungsi dengan roh yaitu sebagai tempat emosi, pengetahuan, disposisi intim. Perbedaan antara keduanya terletak pada sisi ilahi dan insani, yang mana roh merujuk pada karakter yang ilahi dan batin pada karakter insani.
Batin inilah yang banyak digeluti oleh manusia dewasa ini untuk menyembuhkan dirinya dari penyakit baik fisik maupun rohani. Kekuatan batin dimaksimalkan dengan berbagai latihan, misalnya dengan meditasi, dll. Tujuannya memaksimalka daya batin sehingga bisa difungsikan sebagai sarana untuk penyembuhan diri. Batin ini jika diolah akan membangkitkan daya dalam dirinya untuk menghadapi segala sesuatu dan terutama penyakit. Namun sayang kesembuhan yang timbul dari kekuatan batin tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, sehingga menimbulkan keraguan terhadapnya.
Barangkali baik untuk menjawab keraguan ini, bisa dibandingkan dengan pengalaman mistik yang dialami oleh para mistikus kristiani. Para mistikus kristiani bisa mengalami Allah yang mereka rindukan melalui kekuatan batin. Mereka mengolah batin mereka samapai merasakan dan mengalami Allah dan berbicara dengan Allah dalam hidup mereka.
c. Jiwa
Gangguan pada jiwa juga akan mempengaruhi badan, batin dan roh seseorang. Hal yang paling nyata kita lihat terjadi badan, misalnya orang gila. Orang gila dikatakan sebagai orang yang sakit jiwa sehingga membuat tingkah lakunya menjadi tidak waras.
d. Roh
Ini adalah dimensi manusiawi yang paling dekat dengan Allah. Pada dimensi inilah hubungan manusia dengan Allah secara sempurna diungkapkan. Sebagaiman dijelaskan di atas bahwa roh merupakan nafas hidup yang dihembuskan Allah ke dalam diri manusia waktu diciptakan sehingga terbuka kepada kehidupan Ilahi dan taat kepada tindakan Roh Kudus. Karena dihembuskan ke dalam hidup manusia, Roh Allah menyatu dengan hidup manusia.
Di lain pihak, dimensi roh ini juga mempengaruhi ketiga dimensi lainnya. Kalau kita ingat sering kali muncul ungkapan “macam orang yang tidak ada rohnya saja”. Dari ungkapan ini dapat disimpulkan bahwa roh sangat berpengaruh bagi ketiga dimensi lain dalam hidup manusia. Roh member hidup, semangat dan kekuatan bagi ketiga dimensi lainnya. Berkaitan dengan penyembuhan, barangkali roh member semangat kepada tubuh untuk berjuang menghadapi penyakit.

4. Penutup .
Dari pembahasan di atas dapat dilihat kekuatan dan daya setiap dimensi dalam hidup manusia. Tuhan sudah menciptakan manusia dengan perlengkapan keempat dimensinya yang memberi ciri dan keistimewaan pada manusia. Semuanya itu dipandang-Nya baik. Allah menghendaki hidup manusia itu sejahtera baik lahir maupun batin. Karena itu Allah pasti mendorong manusia untuk mencapai hal ini, hidup sehat dan sejahtera. Jadi manusia harus mengusahakannya dengan sekuat tenaga untuk memwujudkan kehendak Allah itu, dengan menggunakan daya dan kekuatan yang ada pada empat dimensi hidup manusia.
Dari sini kiranya pendapat bahwa kesembuhan yang diperoleh manusia jika bukan dari Tuhan berarti berasal dari setan dapat ditangguhkan dan perlu dicermati dengan hati-hati. Karena dalam diri manusia sudah dilengkapi dengan dengan keempat dimensi yang mempunyai kekuatannya masing-masing untuk membawa manusia pada kesembuhan. Keepat dimensi itu sudah diciptakan oleh Allah dan baik adanya. Jadi, apakah penghakiman bahwa kesembuhan itu berasal dari setan bisa diterima, kiranya perlu dicermati baik-baik.
Namun kita perlu senatiasa menyadari bahwa kesembuhan kita peroleh hanya dalam persatuan dengan Allah, karena hanya dengan persatuan dengan Allah-lah keempat dimensi dalam hidup manusia bisa difungsikan dengan sempurna. Diluar Allah kita tidak mepunyai kermampuan apa-apa, karena semua yang kita miliki ada dalam kuasa dan control Allah. Jadi kita tidak boleh menjadi sombong, meninggalkan Allah dan menganggapnya tidak perlu karena kita bisa menggunakan empat dimensi dalam hidup kita untuk memenuhi keperluan hidup kita.








Daftar Pustaka

1. Cooper, John W. Soul, Body and Life Evelasting. Mochigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989.
2. Handoko, Petrus Maria, CM. Dicipta untuk Dicintai. Malang: Pusat Penerbit STFT Widya Sasana, 1996.
3. Bdk. Petrus Maria Handoko, Kemampuan Para Normal: Ilahi, Insani atau setani, dalam Alam Gaib Budaya dan Iman, Dwijo Atmoko, SJ & Donatus Sermada, SVD (Ed), Malang: STFT Widya Sasana, 2002, hlm. 212.
EKARISTI SEBAGAI PERAYAAN ANAMNESE KEHADIRAN SAKRAMENTAL YESUS KRISTUS

Pendahuluan

Liturgi anamnesis dalam tradisi biblis menunjuk pada tindakan penyelamatan Allah di masa lamapau, tindakan itu dikenang dan dihadirkan kembali . Tindakan penyelamatan Allah ini secara nyata hadir dalam Ekaristi, yang mana kurban Kristus di atas salib dihadirkan kembali dalam kenangan. Kenangan akan karya penyelamatan Allah itu bukan hanya sekedar mengingat-ingat secara intelektual, melainkan tindakan Allah itu dihadirkan secara nyata di sini dan sekarang. Aktualisasi karya keselamatan Allah dalm diri Kristus itu terjadi dahulu, sekarang dan di masa yang akan datang yaitu dalam kepenuhannya di akhir zaman, inilah yang disebut sintakbasis. Dalam artian ini, kurban Kristus itu terjadi satu kali untuk selama-lamanya. Dalam Ekaristi kurban itu dihadirkan lagi dalam bentuk sakramental yaitu secara simbolis, bukan diulang. Jadi Perayaan Ekaristi merupakan perayaan kenangan akan karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam diri Kristus.
Teologi Ekaristi dewasa ini menjelaskan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dalam tiga rincian kehadiran, yaitu kehadiran personal Yesus Kristus, kehadiran aktual tindakan Yesus Kristus dan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur Ekaristi.
Kehadiran Personal Yesus Kristus.
Kehadiran pribadi Yesus Kristus dalam Ekaristi dilukiskan oleh Sacrosanctum Consilium 7 sebagai berikut:
Untuk melaksanakan karya sebesar itu, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membabtis, Kristus sendirilah yang membabtis. Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji : bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitulah Aku berada diantara mereka (Mat 18:28).
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pribadi Yesus Kristus sendiri hadir dalam perayaan liturgi. Ia hadir dalam Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi, Kristus hadir sebagai pelayan Ekaristi dan menghadirkan kurban salib-Nya di Golgota. Ia juga hadir dalam pribadi imam yang bertindak in persona Christi capitis. Namun perlu diperhatikan dan dipahami secara sungguh-sungguh bahwa kehdiran Kristus di sini bukan dalam artian hadir secara fisik seperti Yesus Kristus yang hadir 2000 tahun yang lalu di Palestina. Kehadiran Kristus dalam liturgi Ekaristi adalah kehadiran sakramental yaitu dalam bentuk tanda, yaitu dalam diri imam pemimpin liturgi dan dalam rupa rotidan anggur Ekaristi. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi adalh kehadiran secara personal dan nyata.


Kehadiran Aktual Tindakan Yesus Kristus

Ekaristi sebagai perayaan sakramental kehadiran Yesus Kristus mencakup kehadiran pribadi Kristus dan sekaligus karya atau tindakan penyelamatan-Nya. Sebab karya dan pribadi Kristus merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Tindakan penyelamatan Kristus yang diaktualkan dalam Ekaristi adalah peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya atau peristiwa Paska. Ini tidak berarti mengabaikan dimensi kehidupan Yesus lainnya, peristiwa Paska mendapat keistimewaan karena merupakan puncak dari karaya penyelamatan Allah. Seluruh dimensi kehidupan Yesus, inkarnasi, hidup, karya, wafat dan kebangkita-Nya mencampai puncak dalm peristiwa Paska.
Kurban Kristus, ketaatan dan penyerahan diri-Nya kepada Bapa sampai wafat di salib diaktualisasikan dalm seluruh Perayaan Ekaristi. Itulah kehadiran aktual Yesus Kristus dalam Ekaristi.
Kehadiran Nyata Yesus Kristus Dalam Rupa Roti dan Anggur.
Kehadiran pribadi Kristus dan karya-Nya dalam kurban salib di Golgota, mengalami penampakan yang sangat nyata dalam rupa roti dan anggur yang merupakan dua rupa Ekaristi. Ini menjadi mungkin dan nyata melalui peristiwa transubstansiasi yaitu roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Jadi yang hadir dan kita terima dalam Perayaan Ekaristi menjadi santapan jiwa, yang menguatkan kita bukan lagi roti dan anggur melainkan Tubuh dan Darah Yesus Kristus sendri. Dalam Perayaan Ekaristi, kita sungguh-sungguh berjumpa dengan Tuhan karena persatuan dengan Tubuh dan Darahnya yang kita terima. Hal ini memang sulit dipahami oleh akal budi manusia, hanya imanlah yang sanggup memahaminya sehingga mampu kita terima.
Hal tersebut di atas bukan tanpa makna dan alasan. Roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus sesuai dengan sabda Yesus sendiri pada perjamuan malam terakhir:
• Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada para murid-Nya seraya berkata: Ambillah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Di sini Yesus mengidentifikasikan Tubuh-Nya sebagai roti yang dikurbankan bagi kita.
• Ia mengambil piala yang berisi anggur, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Ambillah dan minumlah, inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku. Di sini Yesus mengidentifikasikan Darah-Nya sebagi anggur yang ditumpahkan bagi keselamatan kita.
Dalam Ekaristi Yesus menyatakan Tubuh-Nya dalam rupa roti dan Darah-Nya dalam rupa anggur.
Ekaristi memberi kesempatan kepada Kristus untuk hadir di tengah-tengah kita dan sekaligus memberi kesempatan kepada kita umat-Nya untuk bersatu dengan Dia, bersama Dia dan bersekutu dengan Dia, yakni melalui penerimaan komuni kudus, Tubuh dan Darah Kristus sendiri.
Peran Roh Kudus Untuk Menghadirkan Kristus Dalam Ekaristi.
Dalam Ekaristi peran Roh Kudus sangat ditekankan. Karya Roh Kuduslah yang memungkinkan Kristus hadir secara personal dalam ekaristi, menghadirkan secara aktual karaya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus dan menghadirkan secara nyata Kristus dalam rupa roti dan anggur. Roh Kudus memungkinkan karya penyelamatan Allah yang terjadi dahulu, diaktualisasikan sekarang ini dan di sini dalam Ekaristi serta menanti kepenuhannya di akhir zaman. Itulah sebabnya umat beriman memohon agar Allah mengutus Roh Kudus (epiklese) untuk hadir menguduskan persembahan dan umat beriman sendiri serta mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi. Ia hadir dalm tiga cara yaitu:
Pertama kehadiran personal yang mana Kristus hadir sebagai pelayan Ekaristi dan juga hadir dalam diri imam yang memimpin liturgi dan bertindak atas nama-Nya.
Kedua kehadiran aktual tindakan penyelematan-Nya, yakni peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus atau peristiwa Paska yang merupakan puncak dari seluruh karya penyelamatan Allah.
Ketiga kehadiran nyata dalam roti dan anggur yang merupakan dua rupa Ekaristi. Kehadiran nyata ini menjadi mungkin melalui pristiwa substansiasi yaitu roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Peran Roh Kudus begitu besar dan luar biasa dalam menghadirkan Kristus dalam Ekaristi. Roh Kudus-lah yang memungkinkan Kristus dapat hadir dalam tiga cara kehadiran yang telah disebutkan di atas. Roh Kudus juga yang memungkinkan karya penyelamatan Allah yang tejadi dahulu diaktualisasikan sekarang ini dan di sini serta mencapai kepenuhannya di akhir zaman.


Daftar Pustaka

1. Martasudjita. E. Pr. Ekaristi Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. 2005.
2. Konsili Vatikan II. “Konstitusi tentang Liturgi Suci (SC)” dalam Dokumen Konsili Vatikan II. terj. R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI – Obor. 1993.
.

Jumat, 28 Mei 2010

HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ZHUANG ZI

Zhuang Zi adalah salah seorang filsuf Daois yang hidup sekitar abad ke 4 SM pada Periode Perang Musim Semi dan Musim Gugur, yaitu pada jaman Raja Hui dari Liang dan Raja Xuan dari Qi, sekitar 370 – 301 SM. Dalam menuliskan pemikirannya, Zhuang Zi senang menguraikan dan meingilustrasikan konsep-konsep Dao melalui metode cerita atau kisah. Dalam cerita ini ada dialog antar tokoh yang di dalamnya terkandung gagasan dan pemikirannya. Dalam nepian bab lima, ia menggunakan tokoh Konufsius yang berdialog dengan beberapa tokoh. Dan pada bagian penutup Zhuang Zi sendiri berdialog dengan Hui Zi.
Dari dialog itu muncul pemikiran utama. Dalam bab lima ini gagasan utamanya tentang hakekat seorang manusia. Seorang manusia dikatakan sebagai manusia jika ia senantiasa mengarahkan hidupnya pada kebenaran. Inilah yang dikatakan sebagai seorang bijak. Hakikat manusia tidak dilihat dari sempurna atau cacatnya fisik, tampan atau buruknya rupa melainkan dari kebenaran dan kebijaksanaan yang yang dicapai oleh seseorang. Walaupun manusia memiliki kekurangan dan cacat ia tetap disebut sebagai seorang manusia karaena Dao telah memberi dia wajah dan De memberi dia bentuk tertentu.
Hal ini diungkapkan oleh Zhuang Zi dalam dialog yang dilakukan antara Konfusius dengan Chang Ji, yang mana dikisahkan tentang Wang Tai seorang yang tidak mempunyai kaki namun memiliki banyak pengikut. Para muridnya senantiasa mendengarkan dia, walaupun ia tidak bisa berdiri untuk mengajar atau duduk untuk berdiskusi. Banyak orang yang datang kepadanya dengan perasaan kosong, tak memiliki apa-apa dan lemah lesu, pulang denagan semangat baru atau memperoleh kepenuhan atau pencerahan. Inilah tanda seorang bijak sejati. Wang Tai denagan tidak mempunyai kaki kelihatannya tidak berguna. Namun dalam ketidakbergunaanya itu sesuatu atau seseorang mempunyai kegunanya.
Hal kedua dinyatakan dalam dialog antara konfusius dengan Duke Ai tentang Ai Tai Ta seorang yang mukanya jelek dari Wei. Ia tidak memiliki status yang bisa menyelamatkan hidup orang lain dan tidak mengetahui sesuatu yang lebih daripada yang dianggap benar di sekitarnya. . Namun orang-orang mengelilingi dia dan berbicara tentang dia setiap saat. Ada sesuatu yang istimewa padanya, sehingga orang tertarik padanya. Sesuatu itu adalah kebenaran yang senantiasa di capai dan ada pada orang bijak. Orang bijak sejati adalah orang yang tidak mengetahuai apa yang diketahuinya, seperti yang dialami oleh Ai Tai Ta di atas, sedangkan orang yang menganggap dirinya tahu sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Orang bijak mampu melihat segala sesuatu dan membiarkannya sebagaimana adanya. Bagi mereka hal-hal yang duniawi tidak ada artinya lagi sehingga hakikat manusia itu tidak dilihat dari hal yang fisik dan lahiriah, penampilan luar tidak berarti bagi mereka. Para bijak tidak seperti orang biasanya yang terperangkap dalam kemewahan dan kemashyuran. Orang bijak menghindari itu sehingga mereka benar-benar bebas dari persoalan duniawi.
Menjadi pertanyaan bagaimana manusia bisa senantiasa mengarahkan dirinya pada kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini, Zhuang Zi menyatakan pemikirannya bahwa manusia mampu untuk senantiasa mengarahkan dirinya pada kebenaran karena kebenaran itu sendiri sudah dianugerahkan oleh Dao kedalam diri manusia. Selain itu juga dengan memperkembangkan atau melimpahkan De.
Kebenaran yang dianugerahi Dao
Dao merupakan asal segala sesuatu, dalam hal ini termasuk kebenaran. Dalam diri manusia Dao sudah menganugerahkan sifat alami yang mengarahkan manusia pada kebenaran. Jika manusia dibiarkan untuk hidup sesuai dengan sifat alami atau takdirnya, maka ia akan mencapai kebenaran dan mampu mengekspreikan Dao melalui cara hidupnya. Zhuang Zi yakin bahwa setiap orang mempunyai anugerahnya tersendiri beserta bakat individual yang harus diungkapkan melalui jalan kehidupannya.
Mengembangkan De
Manusia harus mengembangkan De agar semakin berlimpah atau berkembang senhingga menagarahkan manusia pada kebenaran. De ini dikembangkan melalui sikap tidak melihat sesuatu secar parsial dan tidak melihat sesuatu berdasarkan rasa suka atau tidak suka.
Tidak melihat sesuatu secara parsialitas.
Orang yang mau mengembangkan De tidak boleh melihat sesuatu hanya dari satu sisi melainkan melihatnya secara keseluruhan sehingga sampai pada satu kesimpulan yang menyeluruh bukan yang parsial. Inilah yang disebut kebenaran, melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang jelek yang sempurna dan yang tidak sempurna, yang cacat dan yang tidak cacat. Menurut Zhuang Zi pembedaan seperti itu tidak boleh dilakukan karena dengan membeda-bedakan kita telah membuat definisi yang membetasi segala sesuatu sehingga Dao kehilangan keutuhannya. Dari sikap seperti itulah muncul sikap berat sebelah subyek, menganggap sesuatu lebih baik dan berguna daripada yang lain . Untuk mencapai kebenaran kita juga harus melihat persamaan dari segala sesuatu. Jika dilihat dari persamaannya maka akan terjadi keharmonisan dan pencapaian kebenaran.. Jika manusia mampu mencapai kebenaran maka ia akan merasa senag dan bahagia. Sedangkan jika sesuatu dilihat dari perbedaannya, maka tidak ada titik temu, senantiasa berjauhan dan berlawanan dan akhirnya tidak ada keharmonisan.


Tidak melihat sesuatu berdasarkan rasa suka atau tidak suka.
Jika manusia melihat sesuatu berdasarkan rasa suka dan tidak suka, maka ia telah merugikan dirinya sendiri. Manusia seringkali menghabiskan banyak waktunya untuk berdebat atau berselisih tentang setiap aspek kehidupan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka. Karena terlalu banyak berbicara dan berdebat akhirnya mereka tidak mampu menbembangkan De, sehingga semakin menjauh dari Dao dan tidak mampu mencapai kebenaran. Jika manusia menggunakan tolok ukur rasa suka dan tidak suka maka kebenaran itu menjadi kebenaran yang subyektif dan manusia akhirnya tidak mampu mencapai kebenaran sejati.
Relefansi.
Salah satu gagasan penting filsafat adalah membantu manusia untuk merefleksikan segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang ada di sekitar relitas hidupnya. Oleh karena itu gagasan bahwa hakikat manusia tidak dilihat dari kekurangan dan cacat fisik atau dari tampilan luar melainkan dari keseluruhan realitas hidup manusia yang mengarahkan dirinya pada kebenaran, bukan secara parsial dan juga bukan berdasarkan rasa suka atau tidak suka, kiranya memicu manusia zaman ini melihat kembali seluruh gagasan hidupnya.
Gagasan Zhuang Zi mengajak kita untuk merefleksikan fenomena manusia zaman ini yang cendrung melihat sesuatu dari tampilan luar, melihat sesuatu secara parsial dan berdasarkan rasa suka atau tidak suka. Dari fenomena yang muncul itu timbullah sikap diskriminasi dan pembedaan yang membuat manusia itu dikotak-kotakan. Kiranya gagasan Zhuang Zhi memberi pencerhan kepada kita untuk melihat segala sesuatu secara menyeluruh bukan hanya dari satu sisi dan menghindari seikap sentimental yang melihat sesuatu berdasarkan rasa suka atau tidak suka, sehingga pada akhirnya bisa mencampai kesimpulan yang menyeluruh dan mencapai kebenaran sejati.

Senin, 17 Mei 2010

PENILAIAN PERBUATAN ATAS FILM ANGELS AND DEMONS


SINOPSIS

Film ini dimulai dengan kisah meninggalnya seorang paus, sehingga muncul empat orang kardinal yang menjadi calon kuat untuk menjadi paus. Untuk mengatur rumah tangga Vatikan, pengelolaan semantara diserahkan kepada Karmelengo, anak angkat paus sebelumnya. Ia adalah seorang yang sangat anti dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan akan menghancurkan Gereja dan membahayakan eksistensi Tuhan, apalagi dengan ditemukannya zat anti materi yang kemungkinan besar bisa menjelaskan bagaimana awlnya alam semesta ini dijadikan dan dibentuk. Sikapnya ini bertolak belakang dengan keempat kardinal yang menjadi calon kuat paus, mereka sangat terbuka bagi perkembangan dan masuknya ilmu pengetahuan ke dalam Gereja, bahkan melihat keduanya yaitu iman dan pengetahuan sebagai dua hal yang saling melengkapi.
Dari ketakutan dan kecemesan Karmelengo ini lahirlah berbagai tindakan jahat, yaitu pembunuhan ilmuwan dengan menyewa seorang pembunuh bayaran, kemudian disusul penculikan dan pembunuhan empat kardinal yang menjadi calon kuat paus. Ia mengelabui tindakn jahatnya ini dengan menggunakan kode rahasia kelompok iluminati, satu kelompok yang anti terhadap Gereja, namun sudah lama punah. Ia menuduh kelompok iluminati sedang melakukan pembalasan terhadap Gereja atas kesalahan masa lalu yang dilakukannya. Kelompok ilumaniati ini dikatakannya sedang memerangi Gereja dan mengganti Tuhan dengan ilmu pengetahuan. Akal bulusnya juga begitu luar biasa untuk menutupi tindakan jahatnya, ia mencuri dan meletakan tabung anti materi di Vatikan lalu kemudian ia sendiri mengambil tabung dan meledakannya di udara sehingga ia dianggap sebagai penyelamat Vatikan, padahal ialah yang ada di balik semuanya itu. Akal bulusnya ini diketahui dari sebuah rekaman pembicaraannya dengan kepala polisi vatikan (Swis Guard), ia menuduh kepala polisi ini sebagai salah satu anggota kelompok iluminati sehingga ditembak mati, padahal Karmelengo sendirilah yang mencap tubuhnya dengan kode rahasia kelompok iluminati yang telah dicurinya dari museum vatikan.

PENILAIAN ATAS KASUS.

Untuk mengatakan bahwa suatu tindakan termasuk tindakan yang secara moral baik atau tidak, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1) Objek moral yang merupakan objek fisik yang berupa tujuan yang terdekat dari sesuatu perbuatan tertentu (sifat dasar perbuatan) di dalam terang akal sehat.
2) Keadaan yaitu keadaan di luar perbuatan tersebut, tetapi yang berhubungan erat dengan perbuatan tersebut, seperti kapan dilakukan, di mana, oleh siapa, berapa banyak, bagaimana dilakukannya, dan dengan bantuan apa.
3) Maksud/tujuan (intensi) yaitu tujuan yang lebih tinggi yang menjadi akhir dari perbuatan tersebut.
Dari tiga ketentuan ini dapat diambil penilaian atas kasus di atas.
1. Objek moral dari kasus ini adalah pembunuhan dengan perencanaan yang sangat matang, dalam artian ini akal atau kehendak bebas Si pelaku (Karmelengo) bekerja secara sadar. Akibat-akibat yang timbul dari perencanaan pembunuhan itu pasti sudah disadari melanggar hukum moral. Pembunuhan yang dilakukan dalam kasus di atas keluar dari kehendak bebas pelaku dan mempunyai tujuan yang jelas yaitu membunuh untuk menyingkirkan para kardinal yang progresif dan sangat terbuka bagi ilmu pengetahuan.
Dari segi objek dan alasan, perbuatan itu sangat melanggar hukum moral.
2. Keadaan.
Untuk keadaan cukup dilihat dua segi berikut:
Segi pertama, orang yang melakukan. Dalam kasus di atas orang yang melakukan tindakan pembunuhan adalah seorang pastor pengurus rumah tangga kepausan. Tentu dari jabatan Si pelaku ini menambah beratnya pelanggaran moral yang dilakukan. Seharusnya ia adalah orang yang memberi teladan dalam kehidupan moral Gereja ternyata melakukan yang sebaliknya.
Segi kedua, dengan bantuan apa dan bagaimana. Karmelengo otak di balik pembunuhan empat kardinal calon paus dan ilmuwan melakukan eksekusi para korban dengan menyewa permbunuh bayaran. Dari sini dapat diberi penilaian, pembunuhan itu sendiri sudah merupakan pelanggaran moral yang sangat berat karena menghilangkan hak hidup orang lain yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia, apalagi dengan meminta bantuan atau menyewa orang lain menambah beratnya pelanggaran karena menjatuhkan orang lain pada dosa berat dan persoalan moral yang sangat berat.
Di sini terjadi kerjasama antara otak pembunuhan dan pengeksekusi, namun kerja sama dalam hal buru sehingga dikatakan sebagasi hal yang salah dan keliru. Kerjasama ini mendatangkan akibat sosial bagi orang lain terutama menimbulkan kekacauan dalam seluruh Gereja karena tidak meiliki pimpinan.
3. Tujuan pelaku dalam kasus di atas adalah, membunuh demi mencegah masuknya kemajuan ilmu pengetahuan dalam Gereja. Sebuah tujuan yang sangat sederhana dan picik, namun telah mengorbankan banyak nyawa tak bersalah dan hampir mebahayakan seluruh Gereja kaena Karmelengo hampir terpilih menjadi paus. Jika ia terpilih, akan kemanakah Gereja Kristus dibawanya, karena ia telah memperoleh jabatan itu dengan akal bulus dan menipu banyak pihak.
Selain tiga hal di atas, pelaku juga bersifat munafik, menuduh orang lain yang mebunuh para korban dengan menyisakan kode rahasia kelompok iliminasi pada tubuh mereka. Hal lain juga ia berpura-pura menyelamatkan Vatikan dari ledakan bom, ternyata ia sendiri yang meletakan bom itu di Vatikan. Dalam kasus di atas juga terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Karmelengo memperalat kepala polisi vatikan (Swis Guard) demi mempertahankan keyakinan pribadinya bahwa ilmu pengetahuan membahayakan Gereja dan eksistensi Tuhan. Pelanggaran moral yang dilakukan Karmelengo di sini sangata kompleks.

BAGAIMANA PERAN HATI NURANI KARMELENGO DALAM KASUS DI ATAS?

Dalam kasus di atas, hati nurani Karmelengo dikatakan sesat. Karena ia hanya mengikuti keyakinan pribadinya dan tidak melihat norma moral obyektif yang ada dalam Gereja. Hati nurani dapat keliru di dalam pengambilan keputusannya, karena itu setiap orang perlu mebandingkan keputusan hati nuraninya dengan norma moral obyektif yang sudah ada dalam Gereja. Dalam kasus di atas sudah jelas Karmelengo hanya mengutamakan keyakinan pribadi dan tidak membandingkan keyakinan itu dengan norma moral Gereja, sehingga mengakibatkan kerugian yang luar biasa besarnya. Ia sulit menemukan kebenaran karena hanya mengikuti keyakinan dan suara hatinya tanpa membandingkan itu dengan norma moral obyektif, padahal harus disadari tidak ada manusia yang sempurna karena itu tidak boleh hanya mengandalkan keyakinan pribadi semata tetapi perlu diinterfensi dengan kebenaran dari luar diri manusia.
Walaupun hati nurani itu merupakan tempat Allah bertemu dengan manusia, tempat Allah berbicara kepada manusia, namun hati nurani tetap bisa keliru karena kodratnya sebagai ciptaan yang dipengaruhi oleh keadaan manusia yang seringkali tidak mengikuti kata hatinya. Kebiasaan ini menimbulkan hati nurani itu menjadi tumpul, tidak mampu lagi membedakan mana yang baik mana yang jahat.
Namun dibalik itu, hati nurani memungkinkan untuk menerima tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Kalau manusia telah melakukan yang jahat, maka keputusan hati nuraninya yang tepat dapat tetap memberi kesaksian bahwa kebenaran moral berlaku, sementara keputusannya yang konkret itu salah. Rasa bersalah seturut keputusan hati nurani merupakan jaminan bagi harapan dan belas kasihan. Dengan membuktikan kesalahan pada perbuatan yang dilakukan ini, keputusan hati nurani itu mengajak supaya memohon ampun, selanjutnya melakukan yang baik dan supaya dengan bantuan rahmat Allah mengembangkan kebajikan secara terus-menerus. Karmelengo dalam kasus di atas, pada akhirnya mendengarkan kata hati nuraninya sehingga pada akhirnya ia menyadari perbuatannya sudah keliru. Itu terlihat ketika pada akhir film, ia membunuh diri karena menyesali perbuatannya dan satu kata terakhir yang diucapkannya adalah “Bapa ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku”. Sebenarnya ia mempunyai tujuan sangat luhur dalam misinya yaitu mempertahankan ortodoksi ajaran Gereja, namun tindakan yang diambilnya sangat keliru dan salah melawan hukum Tuhan, membunuh.

KESIMPULAN

Manusia mempunyai hak untuk bertindak bebas sesuai dengan hati nuraninya, dan dengan demikian membuat keputusan moral secara pribadi. Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahawa perbuatan Karmelengo sangat melanggar norma moral menghilangkan hak hidup orang lain yang diberikan oleh Tuhan. Ia mempunyai tujuan yang sangat luhur menjaga ortodoksi ajaran Gereja, namun cara yang digunakannya untuk mencapai tujuannya itu salah dan keliru.
Hati nurani Karmelengo dikatakan sesat, karena ia hanya mengikuti kata hati nuraninya tanpa membandingkan keputusan itu dengan norma moral yang diajarkan Gereja. Ia juga telah melanggar hukum Tuhan yakni dengan membunuh orang dalam mencapai tujuannya.

SARAN

Hati nurani harus senantiasa dibentuk dan dilatih agar dapat mengambil keputusan moral yang benar. Hati nurani yang dibentuk dengan baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan berorientasi pada kebaikan yang dikehendaki oleh kebijaksanaan ilahi. Bagi kita manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang buruk dan selalu digoda untuk mendahulukan kepentingan sendiri, pembentukan hati nurani itu mutlak perlu. Pembentukan hati nurani adalah suatu tugas seumur hidup. Sudah sejak awal ia membimbing seorang manusia untuk mengerti dan menghayati hukum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Pendidikan dan latihan yang baik mendorong orang menuju sikap yang berorientasi pada kebaikan. Hati nurani memberi dan membebaskan orang dari perasaan takut, dari ingat diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang semu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan manusia untuk bertindak mengutamakan kebaikan dan mengantar orang menuju kedamaian hati.
Hal yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan dalam pembentukan hati nurani adalah Sabda Allah. Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus menguji hati nurani kita dengan membandingkannya dengan Sabda Tuhan, apakah sesuai atau tidak. Selain itu kita harus terbuka bagi karya dan anugerah Roh Kudus, kesaksian, nasihat orang lain serta keterbukaan diri untuk dibimbing oleh ajaran moral Gereja yaitu melalui para pemimpin dan norma moral yang ada di dalamnya.

Selasa, 11 Mei 2010

MUNCULNYA KEJAHATAN DARI PRSPEKTIF MENCIUS TENTANG KODRAT MANUSIA PADA DASARNYA BAIK


“Pada dasarnya kodrat manusia itu baik” demikian kata Mencius. Sekilas pernyataan ini bisa diterima, namun jika direnungkan lebih mendalam akan menimbulkan kebingingan meningat begitu banyaknya realitas kejahatan yang terjadi karena ulah manusia. Kalau kodrat manusia itu pada dasarnya baik, lalu kejahatan yang dilakukan manusia itu bersumber dari mana? Mengapa manusia melakukan perbuatan jahat, misalnya pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, teror, dll, yang bertentangan dengan kodratnya yang baik itu?
Berangkat dari kebingungan ini, dalam paper ini penulis mencoba mendalami mengapa kejahatan itu muncul atau hadir dalam diri dan tindakan manusia. Yang menjadi acuan dari seluruh tulisan ini adalah studi tentang pandangan Mencius bahwa kodrat manusia itu pada dasarnya baik.
Sekilas tentang Mencius
Meng-Tse dilahirkan sekitar tahun 371-289 SM (?) di negeri kecil Tsou, yang kini berada di provinsi Shantung, Cina Timur. Masa ia dilahirkan, merupakan babak akhir dinasti Chou, disebut oleh orang Cina dengan julukan masa perang antar negara, berhubung Cina secara politis waktu itu terpecah belah, di mana pelbagai negara saling menyerang untuk menguasai seluruh Cina, yang sebelumnya disatukan di bawah Dinasti Zhou.
Mencius merupakan seorang tokoh terkemuka dalam aliran Konfusianisme, penafsir ajaran Konfusius yang handal dengan gayanya yang khas. Ia adalah murid dari Tzu Ssu, cucu Konfusius. Terkemuka dalam teori tentang manusia pada dasarnya baik, dan kebaikan ini dapat diolah dan dikembangkan melalui latihan, pendidikan dan disiplin diri, atau merosot karena lalai dan pengaruh negatif dari luar. Namun kebaikan ini tidak akan pernah hilang, karena dalam diri manusia mengandung empat permulaan dasar kebaikan yang ada sejak lahir atau ada dalam kodratnya.
Munculnya Kejahatan
Munculnya kejahatan disebabkan oleh hal-hal berikut.
1. Manusia tidak mengembangkan empat permulaan dasar kebaikan.
Mencius menyatakan bahwa ada empat permulaan dasar kebaikan dalam diri manusia. Pertama, perasaan simpati merupakan permulaan rasa kemanusiaan. Kedua, perasaan malu dan segan merupakan awal dari kebajikan. Ketiga, kerendahan hati merupakan permulaanl dari kesopanan. Keempat, pemahaman terhadap hal yuang benar dan yang salah adalah permulaan kebijaksanaan.
Keempat permulaan kebaikan ini sudah ada dalam diri manusia sejak manusia itu lahir atau sudah ada dari kodratnya. Namun agar keempat permulaan kebaikan ini berfungsi dengan lebih efektif maka harus dikembangkan, diolah dan dilatih melalui pendidikan yang terus menerus agar manusia selalu mengarahkan dirinya pada kebaikan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kejahatan itu muncul dalam diri manusia yang terwujud dalam tindakan jahatnya disebabkan karena manusia tidak mengembangkan empat permulaan dasar kebaikan yang telah ada dalam dirinya.
Selain itu, keempat permulaan dasar kebaikan itu mutlak diolah dan dikembangkan karena dengan itulah manusia itu disebut sungguh-sungguh sebagai manusia. sedangkan jika tidak diolah dan dikembangkan manusia tidak ada bedanya dengan binatang.
2. Pengaruh Eksternal.
Kejahatan timbul dalam diri manusia karena penagruh dari luar, pengaruh ini merupakan konskewensi lanjut dari keadaan manusia tidak mengembangkan dan mengolah keempat permulaan dasar kebaikan. Karena tidak mengembangkan keempat permulaan kebaikan yang ada dalam dirinya, manusia tidak memiliki pegangan yang bisa menuntunnya dalam bertindak, sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya. Jadi kejahatan ada dalam diri manusia karena ia belajar dan dipengaruhi oleh lingkungannya, sebab dalam diri manusia tidak ada unsur kejahatan itu. Jika manusia membiarkan diri dibimbing oleh kodrat asali yang ia kembangkan dalam hidupnya, maka manusia selalu mengarahkan dirinya pada hal-hal yang baik. Sedangkan jika manusia itu berbuat jahat, itu bukanlah berasal dari kodratnya, melainkan karena pengaruh linkungan di mana manusia itu hidup.
3. Kemampaun yang berbeda pada setaiap manusia.
Mencius mengatakan bawa perkembangan kodrat asali stiap manusia itu berbeda-beda. Barangkali inilah juga salah satu hal yang menyebabkan kejahatan itu ada dalam diri manusia. Hal ini amat mungkin terjadi, karena jika perkembangan kodrat asali itu berbeda-beda, maka kemampuan dasar setiap manusia untuk mengolah diri dan informasi dari luar dirinya juga berbeda-beda. Sehingga memungkinkan manusia itu melakukan kejahatan, karena kurangnya pengetahuan tentang kebaikan yang telah ada dalam kodratnya sebagai akibat dari perbedaan perkembangan kodart asali pada setiap manusia.
4. Aspek kebinatangan manusia.
Mencius sebenarnya mengakui benih-benih kejahatan itu ada dalam diri manusia, namun tidak diakuinya sebagai kodrat dasar manusia, melainkan kodrat yang ada dalam binatang. Hal ini secara tersirat dapt dilihat dari dialognya dengan Konfusius.
Konfucius menyatakan bahwa dalam sifat dasar manusia terdapat unsur-unsur yang baik, tetapi juga terdapat unsur-unsur lain yang tidak dapat dikatakan baik atau buruk, jika tidak dikontrol sebagaimana mestinya dapat minimbulkan kejahatan. Namun menurut Mencius unsur-unsur itu bukan hanya terdapat dalam diri manusia tetapi juga pada makhluk-makhluk yang lain. Unsur-unsur ini menunjukan aspek “kebinatangan” dalam kehidupan manusia dan karenanya bial ditinjau secara ketat, tidak dapat atau tidak akan dipertimbangkan sebagai bagian dari kodrat dasar manusia.
Jadi kejahatan itu muncul dalam diri dan tindakan manusia mungkin karena manusia membiarkan diri dikuasai oleh aspek kebinatanagn itu atau aspek kebinatangan itu mendominasi dirinya. Aspek kebinatangan itu mendominasi diri manusia disebabkan karena empat permulaan dasar kebaikan dalam diri manusia tidak diolah dan dikembangkan semestinya.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa manusia dari kodratnya mengandung kebaikan, namun kejahatan bisa muncul dalam dirinya karena:
1. Ia tidak mengolah dan mengembangkan empat permulaan dasar kebaikan yang sudah ada dalam kodratnya sebagai manusia melalui latihan dan pendidikan .
2. Penagruh dari luar atau apa yang dipelajari dari lingkungannya yang merupakan akibat lanjut dari kelalaian mengolah empat permulaan dasar kebaikan yang ada dalam dirinya, sehingga ia tidak memiliki pegangan hidup.
3. Penagruh perkembangan kodrat asali manusia yang berbeda-beda, menyebabkan kemampuan untuk mengolah diri dan informasi dari luar dirinya berbeda pula.
4. Aspek kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Aspek kebinatangan ini mengandung dalam dirinya segala macam bentuk kejahatan.








DAFTAR PUSTAKA

1. Fung Yu-Lan. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
2. Majalah Forum-Nomor 24-Edisi XXX. Malang: STFT Widya Sasana. 2002.

Senin, 03 Mei 2010

TATA GERAK DALAM LITURGI

I. PENDAHULUAN

Liturgi Katolik merupakan liturgi yang kaya dan penuh dengan simbol. Simbol liturgi bukanlah simbol dalam arti kosong tanpa makna yang hanya memberi informasi belaka. Simbol liturgi merupakan simbol yang menghadirkan secara efektif realitas yang disimbolkan. Salah satu contoh kekayaan simbol yang terdapat dalam liturgi adalah tata gerak atau sikap tubuh.

Banyak umat tidak menghayati tata gerak dalam liturgi, barangkali salah satu penyebabnya adalah umat tidak mengerti arti, maksud dan tujuan tata gerak atau sikap tubuh tersebut. Atau umat mengikuti tata gerak tersebut karena terpaksa atau ikut-ikutan. Padahal jika memahami arti dan maksudnya, akan membangkitkan disposisi penghayatan batin yang luarbiasa mendalam.

Karena itu, dalam paper ini penulis mencoba mendalami berbagai macam tata gerak tersebut, sehingga bisa menumukan makna dan arti atau tujuannya dengan harapan bisa dihayati dengan sungguh-sungguh dalam merayakan liturgi.

II. TATA GERAK

1. Pengertian

Tata gerak adalah gerak atau sikap tubuh yang harus dilaksanakan umat atau petugas lain dalam merayakan liturgi.[1] Tata gerak ini menjadi bagian penting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang berdoa dan juga mencerminkan sikap batin yang sama dalam penghayatan umat akan kehadiran Allah dalam merayakan liturgi.

2. Macam-macam Gerak atau Sikap Tubuh.

1. Berjalan

Berjalan merupakan ungkapan simbolis umat Allah yang sedang berziarah dan bergerak menuju tanah sejati, tanah air surgawi. Selain itu juga mengungkapkan kesiapsediaan Gereja untuk secara aktif menyambut dan menanggapi tawaran kasih Allah.[2]

Karena mengandung makana yang begitu mendalam, berjalan hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh, sopan, badan dan kepala tegap, tenag dan teratur, bukan jalan yang asal-asalan.

2. Duduk

Duduk merupakan ungkapan simbolis umat Allah yang siap sedia mendengarkan Sabda Tuhan dan ungkapan kesiapsediaan untuk memberi diri kepada Tuhan dengan penuh penyerahan.[3]

Barangkali sikap ini bersumber atau diadopsi dari praktek hidup sehari-hari. Sebagaimana dalam kehidupan profan, duduk merupakan sikap yang tenang untuk mendengarkan dan menanti sesuatu dan untuk beristirahat. Demikian juga dalam liturgi sikap duduk merupakan sikap yang cocok untuk mendengarkan Sabda Tuhan, karena orang tidak disibukkan dengan rasa cape bila dibandingkan dengan sikap berlutut atau berdiri. Diharapkan dengan sikap yang tenang ini umat bisa mendengarkan Sabda Tuhan dengan penuh perhatian.

Pada waktu persembahan, kita duduk mau menunjukan sikap penyerahan diri kita, kita diam siap untuk menerima apa yang Tuhan inginkan dan hendak diperbuatnya bagi hidup kita.

Sikap duduk sebagai tanda penyerahan diri dan siap mendengarkan Tuhan juga bisa kita temukan dalam Kitab Suci, misalnya saat Yesus mengajar, orang-orang duduk mendengarkan Dia ( Bdk. Mat 5:1) atau Maria saudara Marta yang duduk mendengarkan Yesus ketika Marta sibuk melayani (bdk. Luk 10:39).

3. Berdiri

Berdiri merupakan simbol liturgi yang mengungkapkan perhatian, kepedulian, penghormatan dan kesiapsediaan terhadap kehadiran Tuhan.[4] Ungkapan perhatian kita temukan saat pembacaan injil, sebagai tanda kesiapsediaan untuk mendengarkan Sabda Allah dengan penuh perhatian. Tanda hormat terhadap kehadiran Tuhan tampak jelas saat berdiri menyambut pemimpin perayaan liturgi, terutama Ekaristi, yang mana pemimpin itu merupakan wakil Allah yang hadir di tengah-tengah umat.

Berdiri juga merupakan sikap dasar liturgis yang sjak zaman kuno melambangkan situasi dan keadaan umat Kristen sebagai orang yang sudah diselamatkan.[5] Jadi berdiri merupakan sebuah simbol kebebasan.

4. Berlutut dan Membungkuk

Dua sikap tubuh ini memang berbeda, namun dalam liturgi melambangkan hal yang sama yaitu ungkapan hormat, menyembah, merendahkan diri dan menyadari kekecilan di hadapan Tuhan.[6]

Mesikupun mempunyai makna yang sama dalam praktek berliturgi, kedua sikap ini tidak diperlakukan sama begitu saja. Misalnya di hadapan Sakramen Maha Kudus, kita tidak membungkuk tetapi berlutut karena di dalam Sakramen Maha Kudus, Tuhan sendiri yang hadir dan bertakhta. Sedankan di depan altar, membungkuk saja sudah cukup. Artinya di depan altar tidak menjadi sebuah kewajiban untuk berlutut.

5. Meniarap

Meniarap merupakan ungkapan merendahkan diri, penghormatan dan kerendahan hati di hadapan Allah yang paling mendalam.[7] Sikap meniarap ini dalam kebiasaan Kekaisarana Romawi digunakan untuk menghadap pejabat tinggi.[8] Jadi pantaslah kalau sikap tubuh ini diadopsi dalam liturgi, karena kita sedang menghadap takhta Kerjajaan Allah, penguasa langit dan bumi, penguasa hidup kita. Dalam praktek berliturgi , sikap tubuh meniarap ini tidak pernah dilakukan oleh seluruh umat melainkan hanya oleh orang-orang tertentu. Misalnya oleh biarawan-biarawati saat mengucapkan kaul, oleh imam dan diakon pada liturgi Juamat Agung dan oleh calon imam dalam liturgi tahbisan. Alasannya kurang jelas, barangkali hanya alasan praktis soal tempat, jika semua umat meniarap tentu gereja tidak cukup untuk menampung semua umat maka diganti dengan sikap berlutut.

6. Tangan Terkatup, Terangkat dan Terentang

Gerakan tangan terkatup merupakan ungkapan yang melambangkan perjumpaan antara Allah dan manusia, sikap hormat, permohonan dan penyerahan diri manusia kepada Allah.[9] Melalui sikap tangan terkatup ini, umat mau menyatakan diri tidak mampu berbuat apa-apa, membiarkan Tuhan berkarya dan bertindak atas dirinya.

Tangan terangkat dan terentang menunjuk kepada sikap kesiapsediaan dan keterbukaan terhadap Allah, ketidakberdayaan dan kekosongan.[10] Khusus untuk sikap angkat tangan, sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari angkat tangan merupakan tanda menyerah, demikian juga dalam liturgi umat mau menyerahkan dirinya ke dalam penyelengaraan Allah karena tanpa bantuan-Nya, manusia tidak mampu berbuat apa-apa.

7. Penunmpangan Tangan

Penumpangan tangan merupakan ungkapan liturgis bagi permohonan dan pencurahan Roh Kudus serta berkat. Khusus dalam liturgi tahbisan melambangkan pelimpahan tugas mengembalakan, wewenang memimpin, mengajar dan menguduskan.[11]

Barangkali gerakan simbolis ini mendapat sumbernya dari Kitab Suci. Misalnya Israel yang menumpangkan tangannya di atas kepala Efraim dan Manasye sebagai tanda permohonan dan pencurahan berkat ( bdk. Kej 48:14-20), Musa yang menumpangkan tangannya ata Yosua sebagai tanda pencurahan roh dan pelimpahan tanggung jawab (bdk. Bil 27:18-23) atau Petrus dan Yohanes yang menumpangkan tangan di atas kepala orang-orang Samaria yang percaya sebagai tanda pencurahan Roh Kudus (bdk. Kis 89:17) dan juga rasul-rasul yang menumpangkan tangan di atas kepala tujuh diakon sebagai tanda pelimpahan wewenang dan kuasa untuk pelayanan meja (bdk. Kis 6:6). Hal yang sama juga dapat ditemukan dalam Kis 13:3, yakni tangan di tumpangkan di atas kepala Barnabas dan Saulus sebagai tanda pelimpahan wewenang dan kuasa.

Dalam liturgi, penumpangan tangan hanya dilakukan oleh kaum tertahbis sebagai tanda pencurahan Roh Kudus, pelimpahan kuasa dan pencurahan berkat.

8. Tanda Salib

Tanda Salib merupakan tata gerak atau isyarat dalam bentuk salib. Tanda Salib lazim dipakai oleh orang Katolik saat memulai dan mengakhiri doa dan saat menerima berkat atau juga pada saat masuk gereja, tangan dicelupkan pada air suci lalu membuat Tanda Salib untuk mengingatkan kita pada pengakuan iman pada saat pembatisan.

“Tanda salib merupakan ungkapan simbolis dan pengakuan singkat atas iman bahwa keselamatan kita terjadi lewat Salib Kristus, selain itu salib juga merupakan tanda berkat dan keselamatan dari Allah”.[12]

Dalam praktek hidup sehari-hari, Tanda Salib menjadi hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Katolik. Tanda salib sering digunakan untuk menunjukan identitas diri sebagai orang Katolik.

9. Menepuk Dada

Menepuk dada merupakan tata gerak yang mengungkapkan penyesalan dan pengakuan bahwa diri kita bersalah.[13] Ungkapan ini barangkali mendapat sumbernya dari Kitab Suci, yaitu dari Injil Lukas 18:13 yang mana seorang pemungut cukai memukul diri sebagai tanda ketidakpantasan dan keberdosaan di hadapan Allah.

Dalam Perayaan Ekaristi, menepuk dada dilakukan saat mengucapkan kata-kata “…..saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa….” Ini mengungkapkan tanda tobat dan penyesalan yang mendalam di hadapan Allah.[14]

10. Jabat Tangan

Jabat tangan merupakan ungkapan simbolis persaudaraan sejati, erat dan akrab.[15] Dalam Perayaan Ekaristi, jabat tangan dilakukan setelah Doa Damai sebagai peresiapan sebelum menerima atau bersatu dengan Yesus dalam Komuni Kudus yaitu terlebih dahulu berdamai dengan saudara seiman.

III. Penutup

Dari uraian tata gerak tubuh di atas, tampak sekali liturgi kita kaya dengan makna. Jika semuanya itu dijalankan dan dihayati maka akan melahirkan liturgi yang anggun dan indah, bahkan bukan hanya sekedar itu tetapi juga sungguh melahirkan penghayatan yang mendalam akan kehadiran Allah yang nyata di tengah umat. Jadi bukan hanya sekedar tata gerak tetapi memiliki makna simbolis yang sangat mendalam. Oleh karena memiliki makna simbolis yang sangat mendalam maka diusahakan agar tata gerak dilaksanakan sedemikian sehingga (1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun; (2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan (3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan. [16] Jika tata gerak ini dihayati umat, maka kelihatan sekali perayaan liturgi itu merupakan perayaan umat, bukan hanya urusan para klerus.

Agar umat mengenal dan memahami makna tata gerak dalam liturgi, maka penulis memberikan saran agar setiap merayakan liturgi dijelaskan kepada umat makna simbolis yang terdapat dalam setiap tata gerak, sehingga umat bisa memahami maknanya dan bisa menghayatinya dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar ikut-ikutan tanpa tahu arti dan makananya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Martasudjita. E., Pr. Pengantar Liturgi. Yogjakarta: Kanisius. 1999.

2. Mariyanto. Ernest. Kamus Liturgi Sederhana. Yogyakarta: Kanisius. 2004.

3. KWI. Institutio Generalis Missalis Romani, Ende: Nusa Indah. 2002.

4. KWI. TPE Buku Umat. Malang: Dioma. 2005.



[1] Ernest Mariyanto, Kamus Liturgi Sederhana, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 213.

[2] E. Martasudjita,Pr, Pengantar Liturgi, Yogyakatra: Kanisius, 1999, hlm. 107.

[3] Bdk. TPE Buku Umat, Malang: Dioma, 2005, hlm. 8.

[4] E. Martasudjita, Op . Cit, hlm. 109.

[5] Ibid.

6Ernest Mariyanto, Op. Cit, hlm. 28

[7] E. Martasudjita, Op. Cit, hlm. 110.

[8] Ernest Mariyanto, Op. Cit, hlm. 127

[9] E. Martasudjita, Op. Cit, hlm. 111.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ernest Mariyanto, Op. Cit, hlm. 211

[13] E. Martasudjita, Op. Cit, hlm. 114.

[14] TPE Buku Umat, Op. Cit, hlm. 7

[15] E. Martasudjita, Ibid.

[16] Bdk. IGMR art. 42.