Sabtu, 29 Mei 2010

KESEMBUHAN DILIHAT DARI DIMENSI ANTROPOLOGI BIBLIS

1. Pengantar

Fenomena penyembuhan dewasa ini bukanlah hal yang asing lagi. Dalam menghadapi fenomena ini, umumnya orang Katolik mempunyai dua sikap yaitu melihatnya apakah berasal dari Allah atau bukan. Bila bukan berasal dari Allah, maka akan ditolak sedangkan jika berasal dari Allah diterima dan didukung. Namun menjadi pertanyaan bagaiman membedakan penyembuhan yang berasal dari Allah dan yang bukan berasal dari Allah. Kiranya kedua sikap ini terlalu kekanak-kanakkan.
Oleh karena itu untuk menjawab persoalan ini dan bagaimana harus bersikap mengahadapi fenomena penyembuhan yang tejadi dewasa ini, penulis mencoba mendalami penyembuhan dari sisi antropologi, khususnya antropologi biblis. Tujuannya melihat dan menggali berbagai potensi yang ada dalam setiap dimesi manusia untuk menyembuhkan dirinya.

2. Pengertian Antropologi

Antropologi berasal dari antropo dan logos yang berarti manusia dan ilmu, sabda atau kata. Jadi antropologi adalah ilmu yang berbicara tentang manusia secara keseluruhan. Namun jauh sebelum antropologi sebagai suatu ilmu sudah ada pemahaman tentang manusia. Sedangkan jika dikaitkan dengan iman Kristiani, antropologi bukan hanya suatu ilmu yang bersifat profan melainkan suatu konsep tentang manusia yang lahir dari suatu refleksi dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Karena itu antropologi merupakan suatu teologi tentang mausia itu sendiri.
3. Antropologi Biblis
Antropologi biblis ini dibagi atas dua yaitu antropologi Perjanjian lama dan Perjanjian Baru.


3.1 Antropologi PL

Menurut Perjanjian Lama manusia merupakan realitas keterpaduan dari berbagai unsur yang membentuknya menjadi satu kesatuan. Dari sini terlihat bahwa Kitab Suci Ibrani memiliki konsep yang berseberangan dengan dualisme Plato. Unsur-unsur itu nampak jelas dari berbagai istilah untuk menggambarkan manusia, misalnya basar, ruah, nefes, dan leb.
a. Nefes (self)
Kata ini menggambarkan kehidupan pada umumnya, baik kehidupan binatang maupun kehidupan manusia (Ul 19:21;1 Raj 19:2; Ay 2:6); juga nafas (Ay 12:10; 1 Raj 17:21) atau pribadi manusia yang bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Nefes juga dikatakan diam dalam darah, sehingga kematian dianggap sebagai hilangnya nefes, dan membuat manusia hanya menjadi basar melulu.
Namun seringkali nefes diterjemahkan sebagai jiwa dari seseorang, seperti kutipan ini: “Althouh it could be translated as “soul” in such contexts, it might more sensibly be read as “person” or “self” or by such personal pronouns as “I” and “myself”. My nephesh will praise the Lord” simply means “I will praise the Lord.” In sum, this crusial term is as different from as it is similar to Platonic sense of “soul.”
b. Ruah (spirit of God)
Ruah memiliki arti yang bervariasi seperti nefes, tapi digunakan lebih banyak sebagai kekuatan yang berasal dari Allah untuk manusia, dari pada binatang dan berhala. Data ini menyodorkan sebuah gagasan bahwa manusia tidak hanya disamakan dengan binatang (sebagai ciptaan) tetapi juga mempunyai relasi dengan Sang Pencipta yang memberinya kekuatan. Manusia adalah ruah sejauh Allah menerima dari ruah Allah (Kej 2:7). Ruah adalah nama dari nafas yang dihembuskan Allah (Kej 7:22) dan sumber dari disposisi-disposisi yang mengarahkan tingkah laku manusia, kekuatan dan kehidupan transenden yang diberikan Allah kepada manusia sehingga manusia bisa mengikuti-Nya.
Ruah merupakan suatu anugerah semata-mata dari Allah kepada manusia. Ruah merupakan daya hidup yang diberikan Allah kepada umat manusia:
“Ruach is a term which refers to wind or moving air and thus, like nephesh, is at times associated with breath. But it also translated as “spirit,” and it actually refers to the spirit of God more frequently than to the human spirit. When indicating the breath of a living creature, ruach is often parallel to another important term, neshama, “the breath of life” (Gen 2:7). If he (God) sould take back his ruach to himself, and gather to himself his breath (neshama), all flesh would perish together, and man would return to dust. So ruach is a vital force or power or energy which animates living creature.
Jadi ruah merupakan kekuatan yang diberikan oleh Allah sendiri kepada manusia. Ruah tidak identik dengan kedirian manusia (self), melainkan sesuatu yang secara langsung diberikan dari Allah kepada manusia. Kenyataan ini menandakan betapa luhurnya nilai hidup manusia, sebab Allah sendirilah yang menjadi dasar baginya.
c. Basar (flesh)
Basar biasanya diterjemahkan badan jasmani (flesh), yang merujuk kepada badan manusia secara keseluruhan. Secara abstrak, basar juga menunjukkan kelemahan manusiawi, keadaan mudah terluka (vulnerability), kelemahan moral (frailty),dan bersifat kotigen. Kata ini banyak dipakai untuk binatang dan juga untuk manusia, tetapi tidak pernah dikenakan kepada Allah. Kata ini menunjukkan lebih pada aspek badaniah manusia, yaitu sejauh manusia terbuat dari badan wadak yang rapuh, lemah dan dapat mati (bdk. Kej 6:3; Yer 17:5; Mz 56:5; Yes 40:6; Yob 34:14-15). Pada dasarnya, kata ini dikenakan kepada manusia sejauh berbeda dari Allah atau jauh dari Allah, yaitu manusia yang ditandai oleh kejatuhan ciptaani.
d. Leb (hear, affectif)
Kata ini paling sering dipakai untuk manusia, bahkan hampir secara ekslusif dipakai hanya untuk manusia. Pada umumnya sekarang diterjemahkan dengan kata “hati” dalam arti lebih luas daripada arti yang digunakan pada masa kini, yaitu kehidupan afektif. Pengertian Ibrani mencakup selain perasaan-perasaan, juga ingatan, gagasan dan penalaran, maupun rencana-rencana dan keputusan. “Allah memeberikan kepada manusia hati yang berpikir” (Sir 17:6). “Kebesaran hati” (1 Raj 5:9) berarti keluasan untuk mengerti. “Hati yang mengeras” berarti pikiran tertutup. Selain itu dapat juga diartikan sebagai pengalaman emosional dan mood, kepribadian seseorang, dan karakter yang dimiliki seseorang.
3.2 Antropologi PB
Perjanjian Baru meneguhkan sekaligus melampaui ajaran Perjanjian Lama, karena adanya kunci defenitif dari penafsiran dan perkembangan manusia. Kunci ini adalah kenyataan, gagasan, dan karya Yesus, putera Allah dalam pribdainya dan dalam pewartaannya, yang diterima dan diungkapkan oleh komunitas murid-murid pertama, wahyu tentang manusia menjadi jelas, melalui wahyu Allah.
Sejalan dengan pola pikir Ibrani, Perjanjian Baru berbicara tentang manusia dalam hubungannya denga Allah dan tentang Allah sejauh berhubungan dengan manusia. pertama yang harus diingat, Perjanjian Baru tidak secara eksplisit menjelaskan konsep tentang antropologi atau teori yang jelas dan menjelaskan secara konsisten pengertian tentang tubuh, pikiran, jiwa, dan roh. Akibatnya terminologi ini menjadi sedikit rumit dan beragam artinya. Secara khusus kata seperti sarx, soma, psyche, pneuma, dan kardia mempunyai pengertian yang kadangkala berbeda antara kitab yang satu dengan yang lainnya.
a. Sarx
Sarx menunjukkan pada dimensi lahiriah, badaniah, dan duniawi dari manusia (Luk 24:39; Rm 2:28) dan dari setiap mahluk hidup (Why 18:17-18). aspek”ke-daging-an ini merupakan dasar ikatan kekeluargaan (Rm 11:14; Hib 12:9; 1Kor 10:18), dan ikatan perkawinan (mempelai menjadi satu “sarx”: Mat 19:5; Mark 10:8; 1 Kor 6:16; Ef 5:13) serta ikatan umat manusia (pasa sarx berarti umat manusia: Mat 24:32; Jn 17: 2; Lk 3:6; Kis 2:7). Seluruh diri manusia adalah sarx dan karena sarx ini manusia bercirikan ciptaani (Jn 1:13; 1 Ptr 1:24). Sarx ini menunjukkan ciri kerapuhan dan kelemahan manusia (2 Kor 10:2). Dalam sarx ini manusia hidup. Dalam arti ini Sang Sabda menajadi sebagai sarx (Jn 1:14; Hib 2:14; 1 Jn 4:2; 2 Jn 7). Dalam Perjanjian Baru juga ada kata “soma” yang sangat dekat dengan arti “sarx” atau basar. Badan atau soma ini terdiri atas jiwa daging dan tulang, yang pada saat kematian menjadi mayat. Dosa juga melawan badan, jika dosa itu menyangkut kemampuan prokreasi.
b. Pneuma
Pneuma artinya roh (dalam PL: ruah), yang berarti daya hidup dan kekuatan. Pneuma dibedakan dari apa yang nampak padanya (soma: 1 Kor 5:3; 7:37; sarx: 2 Kor 7:1; Kol 2:5), atau dari apa yang lemah dalam dirinya (Mat 26:41; Mk 14:38). Kekuatan ini berasal dari Allah: jika manusia meninggal, rohnya kembali kepada Allah (Mt 27:50; Jn 19:30; Kis 7:59; Yak 2:26), yang dipercayakan kepada Allah (Lk 23:46; Hib 12:23; Why 11:11).
Paulus menggunakan kata ini sebanyak 146 kali, dalam antiteses dengan sarx, untuk menunjukkan sluruh pribadi manusia sejauh terbuka kepada kehidupan Ilahi dan taat kepada tindakan Roh Kudus. Roh orang beriman didiami oleh Roh Allah yang menyatukan dirinya dengan manusia untuk menopang dalam dirinya doa keputraan (Rm 8:16,26) dan untuk menyatukan dengan Kristus sehingga yang bersangkutan bisa dibentuk sesuai dengan Yesus dalam satu Roh (1 Kor 6:17). Pada bebrapa teks (Rm 12:11; 2 Kor 6:6), kesatuan antara manusia, roh, dan Allah ditentukan begitu kuat untuk memberi pengertian bahwa Allah membuat mereka yang menyatukan diri dengannya, serupa dengan Allah.
c. Psyche
Psyche merupakan kata yang memiliki kesamaan dengan nefes dalam perjanjian lama. Kata ini berasal dari kata Yunani yang berarti pribadi, atau dengan kata ganti “saya, seseorang. Menggambarkan hidp manusiawi konkrit, atau mirip dnegan kata pneuma, hembusan yang darinya manusia hidup, dan yang meninggalkan ketika manusia mati. Psyche berarti juga “pusat” dari kehidupan emosional dan pengetahuan; atau pribadi sejauh mengungkapkan diri dalam berbagai perasaan. Seringkali berarti kehidupan duniawi sejauh menyangkut pribadi subyek.
d. Kardia
Kardia artinya hati: dikaitkan dengan kata Ibrani “leb”. Dipakai di seluruh PB dan pertama-tama kehidupan dalam diri manusia, tempat akal budi, hati nurani, kehendak. Hati dilawankan dengan wajah dan bibir, dan berarti suatu yang tersembunyi, atau sumber dari pikiran-pikiran. Juga berarti sumber dari iman, pengertian, ketegaran dan pilihan dasar atau tempat hukum yang tak tertulis dan tempat pertemuan dengan Allah.
Hati ini dihangatkan oleh suara Kristus (Luk 24:32), tidak punya lagi rasa takut, ditebus oleh darah penyelamat, menjadi murni dan beristirahat dalam damai. Roh Putera tinggal dalam hati dan menyatakan cinta Allah (Rm 5:5)

3.3 Pendalaman
Dari pembahasan antropologi biblis di atas dapat disimpulkan bahwa dalm diri manusia ada empat dimensi yaitu badan, batin jiwa dan roh. Kiranya keempat dimensi ini saling mempengaruhi dalam kehidupan manusia. Pada bagian ini mencoba mendalami fungsi dari keempat dimensi ini dan pengaruh serta keterkaitannya masing-masing.
a. Badan
Badan merupakan bagian tubuh yang mempunyai otoritas kemandirian tersendiri. Kemandirian ini tampak jika badan mengalami sesuatu, misalnya haus, lapar, sakit, dll. Semua rasa itu harus diatsi dengan memberikan sesatu yang bisa memuaskan badan.
Badan memiliki kekuatan sendiri untuk menyembuhkan diri, misalnya ketikia terluka, jika dibiarkan tanpa diobatipun badan bisa menyembuhkan seniri luka yang terjadi. Namun perlu diingat di sini keadaan fisik kita juga mempengaruhi tiga dimensi lain dalm diri manusia. Misalnya ketika kita sakit, hubungn dengan orang lain juga pasti terganggu.
b. Batin
Batin merupakan bagian terdalam dari hidup manusia, tempat di mana manusia bertemu dengan yang Ilahi.
Batin menunjukkan kemiripan fungsi dengan roh yaitu sebagai tempat emosi, pengetahuan, disposisi intim. Perbedaan antara keduanya terletak pada sisi ilahi dan insani, yang mana roh merujuk pada karakter yang ilahi dan batin pada karakter insani.
Batin inilah yang banyak digeluti oleh manusia dewasa ini untuk menyembuhkan dirinya dari penyakit baik fisik maupun rohani. Kekuatan batin dimaksimalkan dengan berbagai latihan, misalnya dengan meditasi, dll. Tujuannya memaksimalka daya batin sehingga bisa difungsikan sebagai sarana untuk penyembuhan diri. Batin ini jika diolah akan membangkitkan daya dalam dirinya untuk menghadapi segala sesuatu dan terutama penyakit. Namun sayang kesembuhan yang timbul dari kekuatan batin tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, sehingga menimbulkan keraguan terhadapnya.
Barangkali baik untuk menjawab keraguan ini, bisa dibandingkan dengan pengalaman mistik yang dialami oleh para mistikus kristiani. Para mistikus kristiani bisa mengalami Allah yang mereka rindukan melalui kekuatan batin. Mereka mengolah batin mereka samapai merasakan dan mengalami Allah dan berbicara dengan Allah dalam hidup mereka.
c. Jiwa
Gangguan pada jiwa juga akan mempengaruhi badan, batin dan roh seseorang. Hal yang paling nyata kita lihat terjadi badan, misalnya orang gila. Orang gila dikatakan sebagai orang yang sakit jiwa sehingga membuat tingkah lakunya menjadi tidak waras.
d. Roh
Ini adalah dimensi manusiawi yang paling dekat dengan Allah. Pada dimensi inilah hubungan manusia dengan Allah secara sempurna diungkapkan. Sebagaiman dijelaskan di atas bahwa roh merupakan nafas hidup yang dihembuskan Allah ke dalam diri manusia waktu diciptakan sehingga terbuka kepada kehidupan Ilahi dan taat kepada tindakan Roh Kudus. Karena dihembuskan ke dalam hidup manusia, Roh Allah menyatu dengan hidup manusia.
Di lain pihak, dimensi roh ini juga mempengaruhi ketiga dimensi lainnya. Kalau kita ingat sering kali muncul ungkapan “macam orang yang tidak ada rohnya saja”. Dari ungkapan ini dapat disimpulkan bahwa roh sangat berpengaruh bagi ketiga dimensi lain dalam hidup manusia. Roh member hidup, semangat dan kekuatan bagi ketiga dimensi lainnya. Berkaitan dengan penyembuhan, barangkali roh member semangat kepada tubuh untuk berjuang menghadapi penyakit.

4. Penutup .
Dari pembahasan di atas dapat dilihat kekuatan dan daya setiap dimensi dalam hidup manusia. Tuhan sudah menciptakan manusia dengan perlengkapan keempat dimensinya yang memberi ciri dan keistimewaan pada manusia. Semuanya itu dipandang-Nya baik. Allah menghendaki hidup manusia itu sejahtera baik lahir maupun batin. Karena itu Allah pasti mendorong manusia untuk mencapai hal ini, hidup sehat dan sejahtera. Jadi manusia harus mengusahakannya dengan sekuat tenaga untuk memwujudkan kehendak Allah itu, dengan menggunakan daya dan kekuatan yang ada pada empat dimensi hidup manusia.
Dari sini kiranya pendapat bahwa kesembuhan yang diperoleh manusia jika bukan dari Tuhan berarti berasal dari setan dapat ditangguhkan dan perlu dicermati dengan hati-hati. Karena dalam diri manusia sudah dilengkapi dengan dengan keempat dimensi yang mempunyai kekuatannya masing-masing untuk membawa manusia pada kesembuhan. Keepat dimensi itu sudah diciptakan oleh Allah dan baik adanya. Jadi, apakah penghakiman bahwa kesembuhan itu berasal dari setan bisa diterima, kiranya perlu dicermati baik-baik.
Namun kita perlu senatiasa menyadari bahwa kesembuhan kita peroleh hanya dalam persatuan dengan Allah, karena hanya dengan persatuan dengan Allah-lah keempat dimensi dalam hidup manusia bisa difungsikan dengan sempurna. Diluar Allah kita tidak mepunyai kermampuan apa-apa, karena semua yang kita miliki ada dalam kuasa dan control Allah. Jadi kita tidak boleh menjadi sombong, meninggalkan Allah dan menganggapnya tidak perlu karena kita bisa menggunakan empat dimensi dalam hidup kita untuk memenuhi keperluan hidup kita.








Daftar Pustaka

1. Cooper, John W. Soul, Body and Life Evelasting. Mochigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989.
2. Handoko, Petrus Maria, CM. Dicipta untuk Dicintai. Malang: Pusat Penerbit STFT Widya Sasana, 1996.
3. Bdk. Petrus Maria Handoko, Kemampuan Para Normal: Ilahi, Insani atau setani, dalam Alam Gaib Budaya dan Iman, Dwijo Atmoko, SJ & Donatus Sermada, SVD (Ed), Malang: STFT Widya Sasana, 2002, hlm. 212.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Para saudaraku semanggarai komentar Anda saya tunggu.