PARA PELAKU:
Komentator
Narator 1,2,3,4,5,6.
Anak Muda
Petani
Nelayan
Pedagang
Pekerja
Guru
Prajurit
Pastor
Vokalis
Komentator : (Para narator masuk panggung pentas)
Pagi lahir menjanjikan sejuta kehidupan siang, dan manusia mesti berjalan di tempat terik, digiring roda mentari. Pada akhirnya mempertemukan mereka pada benang-benang senja berwarna. Perjalanan itulah perjuangan, dan perjuangan itu, siapakah yang harus mengembannya?
Lagu : Ketika roda perjalanan hari, menguntit bayang, ada seonggok anak muda terkesiap. Serempak sentak mengukir bangku-bangku tua, dalam hamparan corat coret terpapar……..
Narator 1 : Terajut perjuangan tanpa pamrih…..
Narator 2 : Menapak tapak tanjak, bukit harap…..
Narator 3 : Terjadi di lekuk-lekuk kembara…..
Narator 4 : Lalu berderai renyah, tawa sang bumi…..
Narator 5 : Memandang, potret juang anak jaman…..
Narator 6 : Menghamba hidup, perjuangan penuh…..
Narator 1 : Membuka mata pertiwi……
Narator 2 : Tujukanlah, bahwa kita tidak hanya membusungkan dada, dengan selogan usang, tentang pemuda tulang punggung negara….
Narator 3 : Tapi, kita punya dedikasi……
Narator 4 : Tak pasrah pada suap-suap melulu…..
Narator 5 : Bangkitlah kita…….
Narator 6 : Katakan pada kita-kita lain, yang masih ngorok di kursi-kursi empuk….
Narator 1 : Bangkitlah kita dari kursi-kursi kemunafikan…….
Narator 2 : Bersama pertiwi, kita merobek generasi santai…..
Narator 3 : Yang hanya tahu disuap, tanpa tahu mereparasi…..
Narator 4 : Kita adalah anak-anak pertiwi…..
Narator 5 : Yang menggubris cerita mass-media, tentang pemuda tulang punggung negara……
Narator 6 : Kita, yang menggubris tutur radio, bahwa wajib belajar itu mengisi kemerdekaan……
Narator 1 : Tak perlu kita ukir, wajah pertiwi jadi cemerlang……
Narator 2 : Tak perlu kita melap, wajah kota jadi gemerlap……..
Narator 3 : Karena deret tangan pengemis tua masih mengulur iba…….
Narator 4 : Seonggok manusia kolong jembatan, tetap mendekap kedinginan…….
Narator 5 : Sementara tangis lara anak kelaparan kian mengiba……
Narator 6 : Itulah wajah kita…..wajah anak-anak pertiwi……..
(Para narator keluar dari panggung, lagu dinyanyikan dan Anak Muda masuk)
Lagu : Tak perlu kita ukir wajah pertiwi jadi cemerlang, tak perlu kita melap wajah kota menjadi cemerlang, karena deret tangan pengemis tua, masih mengulur iba, sementara tangis lara anak kelaparan, kian mengiba, tak mengapa-tak mengapa, karena itu wajah kita, cuma ulur tangan merangkul mereka butuh, bila kita telah menjadi manusia.
Anak Muda: Cakerawala kemerahan merayap di pertiwi. Batas-batas senja menutup cerita hari ini. Senja yang tak banyak menuntut dari lakon juang anak zaman. Sebuah masa depan aku harapkan. Tapi langkahku tak pasti. Apakah hidupku hanya bertahan pada sebatang rokok? Apakah yang harus kupersembahkan dibalik malam ini?
Komentator: Kalau sudah demikian, Engkau tak perlu bertanya, bertanya dan bertanya. Petani, pedagang, nelayan dan semua penghuni bumi ini mesti berjuang. Apakah hidupmu hanya terus berthan pada sebatang rokok?
Anak Muda: Aku hanyalah sisa….. sisa dari puntung kehidupan. Jalan hidupku memang buntu. Aku menyesal, jadi anak muda yang tidak mempunyai harapan! (rokok dibuang dan diinjak-diinjak).
Petani : (masuk sambil memikul cangkul) “Dari detak pacul tuaku ini, aku hidup dan memuliakan Tuhan. Aku tetap bersabar meskipun hasil panenku sering dilahap hama. Banyak orang menganggap pekerjaanku ini hina, tapi aku patut berbangga, karena manusia tidak bisa hidup, tanpa Petani”.
Komentator: Benarkah manusia tidak bisa hidup tanpa petani? Pedagang menolak, Nelayan ngotot, lalu Pekerja tak mau ketinggalan.
Pedagang : Hasil jualanku menyelamatkan manusia dari kelaparan. (membanting dompet) Dompet tebal oleh uang masuk. Dan Anda boleh melihat, ketika musim lapar melilit perut, orang pada antri minta beras sekilo. Maka tidaklah mengherankan, jika aku bisa hidup tanpa petani.
Nelayan : Badai menghantam, badai berlalu dan gelombangpun mengamuk. Siapakah yang menundukannya, kalau bukan nelayan? Nelayan adalah sahabat manusia, karena tanpa nelayan, manusia akan kehilangan selera makan.
Pekerja : Petani tersenyum, nelayan bangga, pedagang puas, tapi ingat, akulah yang dianggap perintis oleh dunia. Karena petani tidak bisa membuat cangkul, nelayan tak bisa membuat perahu, dan pedagang tak bisa bekerja sendirian. Semuanya hanya bisa dikerjakan oleh Pekerja.
Komentator: Guru tampil bangga karena digelar “pahlawan tanpa tanda jasa”, mengundang ambisi sang prajurit untuk bersandiwara.
Guru : Anak-ank yang dahulu tidak bisa membaca dan menulis, kini menjadi profesor kenamaan, menjadi insinyur kenamaan demi mengangkat nama bangsa. Tapi siapakah yang berdir di belakang mereka kalau bukan guru? Segala ilmu dan bahasa kuberi, tanpa menuntut balas jasa. Petani, nelayan, pekerja tak bisa berbuat apa-apa tanpa ilmu yang kuajarkan.
Prajurit : Satria kebanggan bangsa. Negara aman karena aku. Akulah yang menyandang bedil agar kalian semua terlindung dari musuh. Biar bumi goncang oleh dentuman meriam dan ledakan bom, semangatku tak pernah surut.
Komentator: Tak ada lakon yang mengalah pada perannya masing-masing. Siapakah sebenarnya yang paling berjasa? Mari kita dengar tutur sang Pastor.
Pastor : Karena pengorbananku belum berarti di hadapan kalian, aku merasa belum berguna apa-apa. Manusia diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, maka aku membutuhkan kalian dan kalian membutuhkan aku. Sebab ada tertulis: “Barang siapa yang ingin menjadi yang tedahlu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dan menjadi pelayan bagi sesamanya.”
Petani : Kalau begitu, apakah yang hendak kami lakukan? (Pastor mulai memberikan berkat untuk……………sambil berkata):
Petani : ( berlutut menghadap Pastor) Bekerjalah dalam ladang Tuhan, semaikanlah benih-benih unggul di atas tanah yang subur, agar kelak Engkau memetik buah yang berlimpah (pastor memberkat † Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…..)
Pedagang : Pergilah, juallah segala harta milikmu dan bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, agar kelak Engkau beroleh harta di Surga. (†)
Nelayan : Tebarkanlah jalamu lebih ketengah laut, agar Engkau memperole banyak ikan dan menjadi penjala manusia. (†)
Pekerja : Lakukanlah apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabmu, dan belajarlah untuk mengenal cinta Tuhan. Sebab dengan demikian pelayananmu akan lebih bermakna. (†)
Guru : Kepadamu dipercayakan untuk mendidik dan mengasuh. Terimalah tugasmu dengan rendah hati dan mengabdi seutuhnya, karena dengan demikian, Engkau menerima Tuhan dalam diri anak-anak didikmu. (†)
Prajurit : Dan Engkau, jangan merampas, jangan memeras. Cukupkanlah dirimu dengan gaji yang Enkau terima dari pengabdianmu. (†)
Anak Muda: Bangunlah dari hidupmu yang lama, kenakanlah Yesus Kristus dan janganlah berputus asa. Sebab masih ada harapan untuk meniti hari esok. Maju dan yakinlah, tangan Tuhan setia menuntunmu. (†)
Komentator: Ternyata suara Sang Pastor mampu mengikis ambisi lakon penghuni jagad. Suara Sang Gembala adalah suara bijak, yang menuntun mereka dari pandangan yang keliru.
Anak Muda: Kami diam mengaku sesal, sambil bermeditasi dalam satu rasa bersalah, mengejek pada pandangan kami yang keliru. Dunia..…bagi kami adalah sebuah etalase panggilan. Jadi, kita sama-sama berjasa, sama-sama berguna. Itulah yang menjadi tekat hidup kita dalam menempuh langkah yang baru.
Lagu (solo) : Kalau sampai datang waktu, orang hanya memandang, pada pangkat-pada harta dan kekayaan. Anak-anak kudekatkan hatiku padanya. Karena kita diciptakan, semua sama adanya.
Semua(Reff): KITA SEMUA, ADALAH SAMA. TANPA HARTA APAKAH ADA KEANGKUHAN…… KITA SEMUA ADALAH SAMA. TANPA HARKAT, APAKAH ADA WIBAWA…..
Solo : Itu semua, hanya sementara…….
Setiap kehidupan adalah sama…..(Reff)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Para saudaraku semanggarai komentar Anda saya tunggu.