Tujuan: - korban kepada Allah bagi keselamatan jiwa anggota keluarga yang meninggal.
- sebagia tanda penghormatan bagi keluarga yang meninggal.
Ditinjau dari kedua tujuan ini, “kelas” mempunyai nilai yang sangat luhur jika dibaptis menjadi budaya Kristiani. Korban dalam “kelas” kita ganti, bukan lagi binatang melainkan kurban Kristus yang wafat di salib. Korban kepada Allah yang dilambangkan dengan darah binatang merupakan korban sebulum Kristus (korban Perjanjian Lama), sedangkan setelah kristus datng korban PL itu disempurnakan dan diperbaharui dengan Tubuh-Nya sendiri sebagai Anak Domba sejati. Jika dilihat dari paham korban di atas “kelas” merupakan praktek kuno dari nenek moyang kita yang nota bene belum mengenal Kristus atau boleh dkutip kata-kata Rasul Paulus kepada Timotius praktek “kelas” dan sejenisnya adalah “takhyul dan dongeng nenek tua”(1 Tim 4:7).
Jadi sejak Kristus mengorbankan diri-Nya, paham korban dengan darah binatang dihapus atau ditiadakan, karena Ia sendirilah yang menjadi kurban “Anak Domba yang tak bernoda”. Tentang hal ini Surat kepada Orang Ibrani memberi kesaksian, “……sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban” (Ibr 7:27). Konsekwensinya korban kita dalam “kelas” tidak perlu lagi, karena Allah sendiri tidak berkenan atau tidak menghendakinya sebab Ia telah menyediakan Tubuh Putera-Nya sendiri Yesus Kristus Tuhan kita sebagai kurban penghapus dosa bagi kita umat-Nya. Boleh dikatakan korban yang kita persembahkan dalam “kelas” hanyalah kesia-siaan belaka, yang merugikan kita sendiri, membuat hidup kita semakin melarat, karena “kelas” menguras kita dengan menghabiskan harta benda (uang, tenaga, waktu dan hewan peliharaan).
Pada tujuan kedua, penghormatan kepada leluhur yang adalah orang tua kita, sangat jelas sungguh sangat Kristiani seperti yang termuat dalam perintah ke-4 dari 10 perintah Allah “hormatilah ibu-bapamu”. Penghormatan kita kepada mereka yang sesungguhnya, kita tunjukan kepada sewaktu masih hidup melalui kasih, perhatian, pemeliharaan dan perawatan kita bagi mereka, dalam hal ini saya pribadi sangat mendukung kebiasaan “pau ela tinu” “takung” melalui “kelas”, karena makanan sesungguhnya (makanan jasmani) tidak mereka perlukan atu butuhkan lagi. Tetapi yang mereka butuhkan adalah makanan jiwa yang kita berikan melalui doa-doa kita bagi keselamatan jiwa mereka, doa-doa kita sebagai bekal perjalanan mereka menuju Bapa Surgawi, sehingga “wakar dise toe weleng one salang bana”. Inilah tanda hormat kita yang sesungguhnya kepada mereka setelah meninggal, bukan dengan “kelas”. Tentang peranan doa Rasul Paulus memberi kesaksian melaalui suratnya kepada Timotius sebagai berikut: “Doa itu berguna dalam segala hal, baik untuk hidup sekarang ini maupun hidup yang akan datang”. Selain dengan doa Gereja juga mengajarkan kepada kita, jika dalam bulan November (peringatan arwah semua orang beriman) kita secara berturut-turu selama 8 hari mengunjungui makam (terhiting sejak tanggal 1-8 November), maka akan memperoleh idulgensi penuh bagi arwah yang kita kunjungi makamnya. Selain itu hormat kepada mereka juga kita tunjukan dengan merawat “boa dise”, memmbersihkannya, karena “boa” merupakan “mbaru dise” setelah mereka meninggal. sebagai tanda bakti kita kepada kedua orang tua kita. Sedangkan tanda hormat kita setelah mereka meninggal bukanlah dengan
Tujuan “kelas” sebenarnya sangat luhur kalau dibaptis menjadi budaya Kristiani, namun praktek kitalah yang membuatnya tidak bernilai. Karena itu, saya mengajak mari kita ubah praktek lama ini (maaf agak kasar: praktek kafir) dengan budaya kristiani. Kita ubah “kelas” yang selalu diidentikan dengan korban binatang, dengan korban Kristus melalu Ekaristi Kudus. Kita ganti “kelas” yang lama dengan yang baru yaitu korban “binatang” diganti dengan “doa dan kurban Ekaristi” untuk keselamatan jiwa para leluhur kita. Dalam hal ini misa 40 hari sudah cukup untuk menggantikan “kelas” lama itu atau dengan peringatan-peringatan lain entah itu 100 hari, 1000 hari dan lain-lain.
Menjadi orang Katolik itu sungguh menjadi orang yang merdeka, orang yang bebas bukan menjadi budak. Karena Kristus telah membebaskan kita dengan Darahnya yang sangat mahal. Disini “kelas” dipandang masih memperbudak kita, karena kita masih memandang jika kita tidak mengadakan “kelas” bagi anggota keluarga yang sudah meninggal akan mendatangkan bencana dan kutuk bagi kita. Dengan pandangan ini secara tidak langsung kita menuduh leluhur kita yang mendatangkan kutuk, sakit, bencana dan musibah bagi kita. Benarkah demikian? Saya kira tidak itu hanyalah dongeng-dongeng lama yang sudah usang yang tak perlu dipecaya lagi karena hanya menyisakan perbudakan bagi kita. “Kelas” juga masih mempurbudak kita dengan menguras harta benda kita sehingga membuat hidup semakin melarat terlilit oleh kemiskinan. Karena saat “kelas” kita mengorbankan banyak harta benda yang kita miliki. Saya yakin dan percaya jika kita mampu melepaskan budaya “kelas” yang lama dan menggantikannya atau membaptisnya menjadi budaya kristiani, hidup kita akan bahagia, makmur dan sejahtera, kemiskinan tidak akan meliliti hidup kita lagi.
Teks-teks pendukung:
Mazmur 50:9-15
Hosea 6:6 (sebab Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan dan menyukai pengenalan akan Allah lebih dari korban-korban bakaran).
1 Yohanes 5 (Keselamatan kita peroleh dalam diri Anak Allah).
Sirakh 34 (tentang mimpi).
Alasan tulisan ini dibuat :
Berangkat dari keprihatinan saya akan kemiskinan masyarakat Manggarai, yang menurut refleksi saya salah satu sebabnya adalah budaya kelas yang sangat menguras harta benda.
Sebagai orang Katolik kita tidak memerlukan “kelas” untuk menyelamatkan jiwa kaum keluarga kita yang telah meninggal, karena kita memiliki Kristus sebagai Penyelamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Para saudaraku semanggarai komentar Anda saya tunggu.